Senin, 05 April 2010

Perpustakaan Masjid DKM Al Hurriyyah IPB

Blog Entry Berani Mati Demi Buku Jul 19, '06 4:55 AM
for everyone

Endro Yuwanto

(Wartawan Republika)


Jari manusia mungkin sudah tak cukup untuk menghitung jumlah para pengarang atau penulis buku yang mati lantaran keberadaan bukunya. Nama-nama terkenal seperti Galileo Galilei (Italia), Marque de Sade (Prancis), dan Friedrich Nietzshe (Jerman) adalah contoh penulis yang gugur lantaran hasil karyanya.

Belum lagi para ilmuwan dan intelektual dari kawasan Timur Tengah yang mati karena buku, seperti yang yang ditulis Khaled M Abou El Fadl dalam Musyawarah Buku, terbitan Serambi Ilmu Semesta, 2002. Menurut penuturan Khaled, peradaban kita tidak dibangun di atas kenyamanan dalam kelambanan dan kebodohan, namun peradaban kita dibangun di atas penderitaan para penggagas ilmu pengetahuan yang juga disebut sebagai syuhuda-perkataan.

Deretan nama-nama yang mati lantaran buku cukup banyak disebutkan Khaled, misalnya Abu Hayyan al-Tawhidi, Ibn Taymiyyah, Ibn Rusyd, Al-Nasa'i, Syafi'i al-Nawawi, 'Iyad, dan Ibn Katsir. Risiko menggagas ide yang dituangkan dalam bentuk buku kala itu memang sangat besar, apalagi jika tidak sepaham dengan penguasa setempat.

Dalam masa penjajahan di Indonesia, menulis buku juga memiliki risiko dicekal, ditahan, atau bahkan dibuang, jika isi buku yang ditulis menanamkan rasa kebangsaan dan kemerdekaan. Sungguh, saat itu memang tak gampang untuk menulis buku.

Herannya, dengan kemudahan dan keleluasaan yang diperoleh saat ini, bisa dibilang masih sedikit kaum intelektual, cendekiawan, dan praktisi yang menuangkan hasil pikirannya dalam bentuk buku. Padahal, risiko menulis buku sudah tak lagi sebesar masa penjajahan. Risiko saat ini pun lebih minim jika dibanding masa Orde Lama dan Orde Baru yang berpotensi dengan pencekalan, jika isi buku dianggap menentang atau mengganggu stabilitas rezim yang berkuasa saat itu. Kondisi seperti itu pernah dialami Pramoedya Ananta Toer di masa Orde Baru.

Sebenarnya, para cendekiawan di Indonesia sejak tahun 1970-an sudah banyak sekali menerbitkan buku-buku, namun boleh dikatakan tidak ada buku yang utuh. Buku-buku yang ditulis cendekiawan Indonesia sejak tahun '70-an hingga kini adalah sejenis antologi atau bunga rampai, yakni kumpulan tulisan-tulisan pendek. Biasanya berbentuk tulisan yang dihimpun dari para cendekiawan yang pernah diajukan dalam seminar.

Sangat wajar jika kita tidak bisa melihat keutuhan pemikiran cendekiawan di Indonesia. Yang kita lihat adalah pemikiran yang fragmentaris, yang terpotong di sana-sini berupa tulisan kecil, sehingga benang merah untuk melihat pemikiran seutuhnya itu tidak tampak.

Kemungkinan kondisi ini terjadi, antara lain karena mereka dipacu untuk segera menyelesaikan masalah-masalah yang sifatnya sesaat. Apalagi, banyak sekali kesibukan-kesibukan yang tidak bisa dielakkan dan harus diselesaikan pada saat itu juga, tanpa bisa ditunda-tunda. Sehingga, perenungan dan pengendapan pemikiran kurang bisa tergapai.

Tak hanya itu, para intelektual atau cendekiawan kita juga terlalu disibukkan oleh hal-hal yang sebetulnya bukan merupakan keahlian mereka. Jangan heran, jika ada intelektual dari universitas terkemuka, seperti UI dan UGM lebih ngetop karena sering muncul di layar kaca dan bukan karena tuangan ide dan gagasan cemerlangnya ke dalam bentuk buku. Bahkan, banyak ibu-ibu yang kenal dan lebih senang menonton mereka karena perawakan fisiknya, seperti 'ganteng, keren, atau kumis yang menggoda.' Singkatnya, mereka lebih dikenal lantaran keselebritisannya.

Kondisi ini jelas merugikan banyak pihak yang haus ilmu dan pengetahuan, misalnya saja kaum mahasiswa. Jangan heran, jika banyak mahasiswa yang mengeluh lantaran kesulitan mendapat buku kuliah berbahasa Indonesia atau pun buku-buku karya ilmuwan Indonesia.

Mereka kebanyakan mendapat buku kuliah dari para penulis atau ilmuwan asing, dengan masa terbit buku yang sudah ada sejak setahun, sepuluh, dua puluh, tiga puluh, atau lebih dari empat puluh tahun yang lalu. Ironisnya, hampir tiap tahun lahir profesor, doktor, atau pun master dari berbagai disiplin ilmu di universitas-universitas di tanah air, namun tak dibarengi dengan jumlah buku sebanyak alumnus-alumus tersebut.

Sebenarnya, keengganan menulis buku kemungkinan besar juga diakibatkan kecilnya pendapatan penulis di Indonesia. Salah seorang penulis terkenal di Indonesia, Hilman 'Lupus' Hariwijaya, suatu ketika pernah menuturkan bahwa di Indonesia royalti kepada pengarang biasanya sebesar 10 hingga 15 persen dari harga buku. Sekali cetak, umumnya penerbit menggandakan buku sejumlah 5.000 eksemplar.

Buku tersebut biasanya baru habis terjual dalam tempo satu, dua, atau tiga tahun. Bila harga buku Rp 10.000 dan royalti 10 persen, maka pengarang mendapat Rp 1.000 per buku. Untuk keseluruhan buku, dia hanya mendapat Rp 5 juta --itu pun dengan catatan buku tersebut ludes terjual dalam setahun. Bayangkan jika jumlah eksemplarnya kurang dari 5.000. Selain itu, lima juta rupiah, memang jumlah uang yang cukup besar. Namun jika lima juta rupiah dalam satu tahun berarti Rp 416 ribu per bulan. Jumlah pendapatan yang tentu saja masih di bawah Upah Minimum Regional (UMR).

Terlepas dari minimnya hasil yang diperoleh dari menulis buku, bukan berarti para intelektual ataupun ilmuwan boleh bersikap tak peduli atau pun cukup puas dengan gelar yang disandang, tanpa pernah sekali pun menuangkan ide dalam bentuk buku. Toh mereka tak akan mati, jika sampai menerbitkan buku hari ini.
0 comments share

Blog Entry Rekreasi Baca di Toko Buku Jul 19, '06 4:50 AM
for everyone

Lukman Hakim

(Wartawan Republika)

Mungkin kedengarannya cukup naif: toko buku bisa dijadikan sebagai tempat rekreasi keluarga di waktu luang atau ketika hari libur. Tapi, yang terjadi sudah demikian. Kini makin banyak keluarga yang memilih toko buku untuk bersantai.

Bahkan, kini sudah ada beberapa toko buku yang sengaja ditata sebagai tempat bersantai dan dilengkapi dengan kafe, seperti QB World Book di Kemang dan Pondok Indah, Jakarta Selatan, serta Rumah Baca di kawasan Sport Mall, Kelapa Gading, Jakarta Utara. Di kedua toko buku itu para pengunjung dapat bersantai sambil membaca.

Di banyak toko buku pada akhir minggu juga sudah tampak pemandangan yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Sudah tidak ada lagi orang datang sendirian ke toko buku dan setelah memilih-milih langsung pulang. Banyak yang datang sekeluarga. Penampilan mereka pun santai, ala kadarnya, dengan memakai baju santai seperti kaos oblong. Bahkan, ada yang hanya bersandal jepit dan celana pendek.

Seperti yang terlihat di Toko Buku Gramedia, Depok. Di antara konsumen yang datang banyak anak-anak, ibu-ibu rumah tangga dan bapak-bapak muda hingga yang berusia lanjut. Mereka terlihat mempunyai kesibukan sendiri memilih buku.

''Kami sekeluarga memang sering datang ke toko buku. Kali ini kebetulan ingin mencari bahan referensi untuk metting perusahaan,'' ujar Tini Yuliati, salah seorang karyawan Bank Niaga, yang terlihat sedang membaca buku manajemen di toko buku tersebut.

Tini datang bersama suami dan anaknya yang masih berusia enam tahun. Mereka masing-masing mempunyai pilihan sendiri. Sang anak menyukai komik anak-anak sedang suaminya ingin memperdalam bahasa Inggris melalui buku.

Ibu muda ini mengaku rutin mengajak keluarga ke toko buku. ''Kalaupun tidak membeli, ya sekadar melihat-lihat,'' katanya. ''Paling tidak saya sebulan dua kali membawa keluarga ke toko buku. Sekalian mendidik anak gemar membaca,'' tambahnya.

Begitu pula yang dilakukan keluarga Jaelani, yang tinggal di Setia Budi, Jakarta Selatan. Walaupun hanya pedagang kelontong biasa, ia mengaku lebih suka mengajak anak-anaknya ke toko buku dari pada ke supermarket.

Hal itu, menurutnya, dilakukannya agar kedua anaknya, Aswin dan Anna, menggemari buku bacaan yang penting bagi kemajuan pengetahuan mereka. ''Saya tidak ingin anak-anak saya mengikuti orang tuanya. Anak saya harus pandai,'' katanya.

Mulanya, menurut Jaelani, untuk membiasakan anak-anaknya datang ke toko buku sangatlah sulit. Anak-anaknya lebih suka ke mal atau supermarket hanya untuk membeli barang yang tidak perlu. Namun, dengan didikan keras akhirnya mereka terbiasa juga. ''Bahkan kini justru anak saya yang mengajak bareng-bareng ke toko buku,'' tambahnya.

Kecenderungan bersantai sekeluarga di toko buku agaknya ditangkap oleh beberapa pengusaha sebagai peluang bisnis. Mereka sudah tidak lagi mengkhususkan menjual buku saja, tapi lengkap dengan menjual barang-barang lain. Tidak hanya alat-alat tulis, tapi juga 'barang-barang supermarket'.

Bahkan ada beberapa toko buku yang kini sengaja dikonsep sebagai tempat rekreasi, atau bersantai. Misalnya, QB World Book dan Rumah Baca di atas. Juga Toko Buku Aksara dan Pasarbuku di Bandung. Beberapa rumah baca yang dikelola LSM, seperti Rumah Cahaya di Depok dan Rumah Dunia di Serang, juga ditata sebagai tempat 'rekreasi baca'. Begitu juga perpustakaan NH Dini di Semarang.

Ica Rizadini, koordinator program QB World Book mengakui ada peningkatan yang hampir dua kali lipat pengujung yang mengajak keluarga dibanding tahun sebelumnya. ''Sejak QB didirikan memang banyak pengunjung keluarga, dan akhir-akhir ini makin menggembirakan,'' tambahnya.

Di QB memang sengaja didesain toko buku berkonsep keluarga. Sehingga, bukan hanya buku saja yang dijual, tapi juga aneka macam makanan dan minuman di kafe di ujung ruangan.

Begitu pengunjung keluarga datang, lanjut Ica, mereka langsung menyebar be berbagai counter. Yang anak ke jenis buku-buku cerita dan kreatif, ibunya memilih buku-buku parenting dan suaminya memilih buku referensi. ''Begitu selesai memilih buku biasanya mereka berkumpul di kafe dengan membawa buku masing-masing. Setelah mendiskusikan sejenak lalu membayarnya,'' tambahnya.

Menurut Ica, keberhasilan menarik keluarga ke toko buku, selain sering melakukan kampanye cinta buku, juga program tokonya yang mempunyai kiat pemasaran dengan mengadakan story telling sebulan sekali. Selain mengupas buku, juga melibatkan anak-anak untuk bercerita, dan berlomba apa saja untuk merangsang kreativitas. Selain itu, sebulan sekali juga diadakan acara kupas buku, baik buku anak maupun referensi.

Begitu pula di Rumah Baca, yang terletak di lantai dasar dan 1, Jl Raya Kelapa Nias, Blok HF 3, Sport Mall, Kelapa Gading, Jakarta Utara. Pengelolanya sengaja menyediakan ruang khusus untuk bermain. Selain juga tersedia kafe.

Menurut koordinator penjualannya, Sugeng Santoso, sejak toko buku yang terletak di gedung basket tersebut dibuka memang bernuansa keluarga. ''Karena itu, kami menyediakan tempat bermain dan kafe,'' tambahnya.

Menurut Sugeng, pada hari-hari biasa pengunjung kebanyakan tidak bersama keluarga. Mereka datang sendiri atau bersama teman sekolah atau rekan sekantor, hanya untuk bersantai sambil memilih buku.

Tapi, pada hari libur, kebanyakan pengunjung bersama keluarganya. Begitu datang, anak-anak langsung ke tempat mainan, sedang ibunya menunggu di kafe sambil minum dan bapaknya memilih buku referensi. Atau sebaliknya, ibu yang memilih referensi. ''Mereka bisa tenang memilih buku sambil mengawasi anaknya yang asik bermain,'' katanya.

Maraknya toko buku sebagai 'tempat wisata' tak lepas dari peran beberapa kalangan yang ingin meningkatkan mutu pendidikan anak. Saat ini budaya baca masih sangat kurang dan perlu ditingkatkan.

Menurut Dirjen Dikdasmen Indra Djadi Sidi, selain mengkampanyekan gemar baca buku di kalangan anak-anak, pihaknya juga telah menyetop buku-buku paket dari pusat ke daerah yang seragam. ''Sekarang yang membuat buku adalah daerah, dananya dari pemerintah kemudian disalurkan ke toko buku. Dengan demikian toko-toko buku bisa hidup dan berkembang. Tidak seperti dulu,'' tambahnya.

Selain itu, untuk menggalakkan masyakarat cinta buku juga telah dibangun 'desa buku' yang bernuansa rekreasi keluarga di Taman Kiai Langgeng, Magelang. Selain beragam buku dan obyek wisata, juga ada kegiatan bermain yang diminati anak.
0 comments share

Blog Entry Membaca dan Menulis :Pintu menuju Dunia Keajaiban Jul 19, '06 4:42 AM
for everyone

Percayakah Anda? Menurut penelitian, kegemaran membaca dan menulis buku membuat seseorang tak mudah pikun pada masa tuanya.

Jika Anda ingin mengaktifkan penggunaan belahan otak kanan (emosi) dan kiri (logika), banyak-banyaklah membaca dan menulis.

Reading dan writing memang memberikan banyak kebaikan dan keajaiban hidup. Sayangnya walau sudah dikenalkan sejak sekolah dasar, kedua aktivitas ini tak kunjung jadi santapan kita sehari-hari. Mayoritas orang tidak menjadi penikmat buku dan penulis kata yang andal.

Berawal dari keprihatinan itulah, Hernowo, General Manager Editorial Mizan, mencoba membuka paradigma baru dalam dunia baca tulis. Ternyata membaca dengan enjoy dan menyampaikan kata lewat pena bukan hal yang sulit. Hanya saja semuanya perlu pembiasaan.

Lewat buku Mengikat Makna, alumni ITB ini memberi berbagai kiat ampuh untuk melejitkan kemauan plus kemampuan membaca dan menulis buku.

Dalam siaran di sebuah stasiun tv swasta, Hernowo mengatakan tanpa berlatih secara konsisten dan kontinu, mustahil seseorang dapat membaca dengan benar dan menulis dengan baik. Mengapa? Karena membaca dan menulis adalah dua aktivitas "mencerna" yang kemampuannya tumbuh secara bertahap dan berkelanjutan.

Membaca adalah upaya untuk mencerna dan menyerap sari kumpulan gagasan. Sedang menulis adalah salah satu kegiatan mempercepat proses pencernaan dan penyerapan gagasan (hal. 44).

Pembiasaan dan latihan, mungkin ini yang malas dan jarang dilakukan. Perlu tekad pribadi dan juga dukungan lingkungan.

Alma, putri dari Karlina Leksono (astronom wanita Indonesia), bisa dijadikan contoh dalam hal ini. Sejak kecil orangtuanya telah memperkenalkan Alma dengan dunia buku.

Ia berkisah, orangtuanya termasuk royal dalam membelikan bacaan. Berbeda halnya jika yang ia minta adalah mainan dan lainnya. Untuk buku tampaknya orangtua tak kenal kompromi.

Bacaan yang menarik, ditambah ibu yang memberi penjelasan dengan cara menarik membuat Alma mencintai buku. Segala hal yang ingin ia ketahui, ia cari di buku. Ia mengenal berbagai kota di dunia lewat buku, seakan-akan ia ada di dalamnya. Membaca jadi sangat menyenangkan.

Membaca membuat kita banyak berpikir dan merenung. Anak yang banyak membaca akan berkembang imajinasinya. Dan imajinasi akan menumbuhkan kreativitas.

Betul apa yang dikatakan Barbara Tuchman, yang juga dikutip dalam buku Mengikat Makna (hal 53), bahwa buku adalah pengusung peradaban. Tanpa buku, sejarah menjadi sunyi, sastra bisu, ilmu pengetahuan lumpuh, pikiran dan spekulasi mandek.

Lalu bagaimana halnya dengan menulis? Belajar dari pengalaman pribadi, Hernowo mengajak setiap orang untuk membudayakan aktivitas menuliskan apa yang ia baca dan ia ketahui. Menulis menurut Hernowo bukan masalah skill atau art, tapi campuran antara keduanya.

Ia menyitir satu kiat menulis dari sebuah film tentang seorang anak yang ingin dapat menulis. Pesannya : "Hadapi mesin tik sampai apapun yang ada dalam pikiran Anda keluar".

Kadang proses menulis kita terhambat karena kita tidak menuliskan semua yang ada dalam pikiran kita. Hal seperti ini banyak dialami murid-murid sekolah dasar. Penyebabnya macam-macam, bisa karena takut nilainya kecil, ditertawakan, dan sebagainya.

Karena itulah menulislah dengan hati. Keluarkan semua yang ada dalam pikiran Anda. Setelah itu baru berhati-hatilah dengan menggunakan otak Anda.

Kiat tersebut mirip dengan anjuran J.K. Rowling, penulis bestseller Harry Potter. Untuk menulis "Mulailah dengan menuliskan hal-hal yang kau ketahui. Tulislah tentang pengalaman dan perasaanmu sendiri. Itulah yang saya lakukan".

Membaca dan menulis adalah dua sayap yang akan membawa Anda terbang. Membaca, tanpa disertai upaya menuliskan apa yang Anda dapat sama dengan terbang memakai satu sayap, menggantung tak tentu tujuan.

Mengungkap pengetahuan lewat pena akan membawa Anda pada pendalaman makna dan perluasan wawasan.Ini sama dengan mengaplikasikan ilmu kepada masyarakat luas.

Cobalah mengikat makna lewat membaca dan menulis sejak saat ini. Anda akan menemukan sebuah dunia yang indah. A wonderland.
0 comments share

Blog Entry Tip Sukses Pustaka Islam Jul 19, '06 4:34 AM
for everyone

Umat Islam di Indonesia kini boleh merasa bangga. Buku-buku referensi ilmu pengetahuan dan psikologi yang ditulis oleh pakar Muslim, terutama psikologi pengembangan diri kini sudah gampang didapatkan.

Selama ini, buku-buku rujukan 'pengembangan diri' (tuntunan untuk sukses) banyak berasal dari Barat, terutama ditulis oleh pakar Amerika. Dengan demikian, landasan nilai-nilai yang 'ditanamkan' tidak bersumber dari ajaran Islam. Sebut saja, misalnya, buku-buku Dale Carnegie, Edward de Bono, Howard Gardner, dan John Grey.

Namun, dunia pustaka kita kini makin dimaraki buku-buku seri pengembangan diri yang ditulis oleh pakar-pakar dari dunia Islam, sehingga landasan nilai-nilainya pun dari ajaran Islam. Misalnya, Psikologi Kesuksesan karya Maulana Wahiddin Khan, dan 30 Tips Hidup Bahagia karya A'idh bin Abdullah Al-Qarni, serta Anakku Bahagia Anakku Sukses karya Mohamed A Khalfan.

Selain itu, ada The Road to Mecca, Perjalanan Spiritual Seorang Pencari Kebenaran karya Fuad Hashem, Membangun Positive Thinking Secara Islam karya Adil Fathi Abdullah, dan Menjadi Ayah yang Sukses karya Muhammad Abdul Jawal, Kiat Islami Meraih Prestasi karya Husein Syahatan, Main-main dengan Teks, Sembari Mengasah Potensi Kecerdasan Emosi karya Hernowo, dan Panduan Praktis Dalam Pergaulan karya Muhammad Said Mursi.

Apabila kita berjalan-jalan di toko buku dan menyempatkan diri mengunjungi rak bagian psikologi dan perkembangan, atau secara iseng mengakses situs buku via internet, akan banyak menemukan buku-buku seri pengembangan diri yang merujuk ajaran Islam seperti di atas, dan sebagian besar terjemahan.

Buku-buku itu tidak hanya berisi rujukan hidup mulia menurut Rosulullah dan Alquran. Tapi juga bagaimana mengembangkan karier, kemampuan berpikir, kretivitas, berbisnis secara sukses, sampai bagaimana membimbing anak dan memimpin perusahaan. Buku-buku tersebut melengkapi kehadiran buku-buku sejenis karya KH Abdullah Gymnastiar dengan manajemen kalbunya dan Arie Ginanjar dengan ESQ-nya.

Karena rujukannya berbeda dengan buku-buku sejenis dari Barat, jelas buku-buku pengembangan diri dari dunia Islam itu membawa pandangan-pandangan baru. Para penulisnya tidak secara mentah-mentah menerapkan teori-teori psikologi atau manajemen Barat, tapi juga merujuk ajaran Islam.

Dalam buku psikologi karya Ubes Nur Islam, Mendidik Anak Dalam Kandungan, Optimalisasi Potensi Anak Sejak Dini misalnya, disebutkan bahwa anak adalah amanat Allah sehingga harus dijaga keberadaannya dalam segala hal. Dibandingkan dengan buku psikologi umum, ada banyak kelebihan buku ini, karena visi-visinya yang Islami. Sementara dalam buku Psikologi Kesuksesan secara jelas merujuk Alquran dan Hadis.

Penerbit Mizan, Gema Insani Press, dan Robbani Press, termasuk yang paling banyak menerbitkan buku-buku sejenis. Ketiganya memang termasuk jajaran penerbit buku-buku Islam dan pendidikan.

Sebelumnya, mereka sudah berpengalaman menerbitkan terjemahan buku-buku kiat dan pengembangan diri dari Barat, seperti 25 Kiat Dahsyat Menjadi Pembicara Hebat karya Rob Abernathy dan Mark Reardon, Cara-cara Efektif Mengasuh Anak dengan EQ karya Maurice J Elias, Tobias Steven E Tobian dan Friedlander Brian S Friedlander, serta Quantum Learning: Membiasakan Belajar Nyaman dan Menyenangkan karya Bobbi DePorter dan Mike Hernacki.

Selain itu, pernah beredar juga terjemahan buku-buku pengembangan diri dan psikologi anak karya pakar-pakar Barat, seperti Rene Van de Carr MD, Marc Lehrer PhD, Mary Leonhardt, Gordon Dryden dan Jeannette Vos yang bukunya mencapai best seller seluruh dunia, Dale Carnegie, Napoleon Hill, DJ Schwartz, dan Norman Vincent Peale.

Fenomena maraknya buku-buku soikologi dan pengembangan diri dari dunia Islam tentu sangat menggembirakan. Dengan membaca buku-buku tersebut, selain bisa menyerap ilmu yang terkandung di dalamnya, kita juga dapat menerapkan perilaku mulia sesuai sunah Rasul dan Alquran.

Dewasa ini, menurut redaktur Robbani Prees, Nasikhin, memang tak bisa dipungkiri dimulainya era kebangkitan pustaka Islam. Namun, era itu tetap perlu ditopang dengan semangat melakukan inovasi atau melakukan hal-hal baru untuk menunjang kebangkitan dunia Islam. ''Ini perlu ditumbuhkembangkan dan diberi semangat agar terus berkembang,'' katanya.

Secara kebetulan, tambahnya, buku-buku dari Timur Tengah paling banyak. Karena itu, Robbani Press, menerbitkanlah buku Psikologi Kesuksesan karya pakar Muslim India, Maulana Wahiduddin Khan. ''Alhamdulillah, sambutan pasar sangat baik. Sehingga, akan dicetak ulang, selain akan mencari pengarang-pengarang lain,'' ujarnya.

Untuk ke depan, Robbani akan mengkhususkan buku-buku pengembangan diri dengan nama penerbit yang berbeda (anak perusahaan). Sedangkan Robbani, seperti pendahulunya, Mizan, akan lebih berkonsentrasi pada buku-buku keilmuan Islam, sejak, filsafat, sosial, ekonomi, sampai agama.

Saat ini, Robbani sedang mempersiapkan sepuluh judul buku pengembangan diri, dan akan segera dicetak. Kemungkinan, tahun ini akan diluncurkan dan dipasarkan secara bebas. Buku-buku tersebut umumnya juga karya terjemahan.

Tentang fenomena tersebut, Dadang Hawari mengomentarinya sebagai upaya yang sangat positif bila ilmu-ilmu Islam sudah diimplementasikan ke bidang lain. Pada dasarnya, menurutnya, sumber dari sumber sumber ilmu adalah Alquran dan hadis.

''Kalau kita ingin lebih maju, buku-buku semacam itu perlu lebih banyak diterbitkan. Ini supaya mereka yang mempunyai Alquran hanya sebagai pajangan bisa mengerti penerapannya,'' tambahnya.



www.ekuator.com
0 comments share

Blog Entry Perpustakaan Bernuasa Alam Pedesaan Jul 19, '06 4:30 AM
for everyone

Membaca buku di tengah perpaduan keindahan alam pedesaan yang hening dan sejuk mampu membangkitkan energi berkontemplasi yang selama ini boleh jadi tidak kita dapatkan di tengah hiruk pikuk suasana kota. Inilah yang coba ditawarkan oleh desa buku pertama di Indonesia yang berlokasi di Taman Kyai Langgeng, Magelang, Jawa Tengah.

Taman Kyai Langgeng yang terletak di atas Sungai Progo adalah taman rekreasi yang menyuguhkan keindahan alam yang masih naturalis. Suara gemericik air di parit kecil yang tertata rapi, suara kicauan burung yang merdu, serta rindangnya pepohonan, menjadikan setiap pengunjung merasa begitu dekat dengan alam.

Anda bisa masuk ke tempat manapun yang anda sukai hanya dengan membayar tiket masuk sebesar 4000 rupiah. Papan penunjuk arah lokasi akan memudahkan para pengunjung menuju ke setiap sisi taman yang ingin disinggahi.

"Desa Buku" pertama di Indonesia ini diresmikan oleh Presiden Megawati pada 20 Mei 2004 lalu. Dua buah bangunan dengan arsitektur modern bertuliskan "Perpustakaan Desa Buku Taman Kyai Langgeng" dan "Pusat Informasi Buku Taman Kyai Langgeng" dengan mudah dapat ditemukan oleh para pengunjung di lokasi taman rekreasi ini. Bangunannya memiliki struktur unik karena posisi yang menggantung mengikuti kontur tanah berbukit di lereng tebing Sungai Progo. Dengan posisi bangunan seperti ini, para pengunjung dapat dengan bebas menikmati pemandangan lekuk aliran Sungai Progo dan hamparan hijau pepohonan di kejauhan.

Masuk ke dalamnya, pengunjung diperdengarkan dengan alunan musik khas gamelan Jawa. Nampak di sana rak-rak buku yang disusun berdasarkan tema untuk memudahkan pencarian buku yang ingin dibaca. Pada bagian sisi bangunan ini terdapat ruangan terbuka sejenis balkon yang dapat dijadikan tempat alternatif untuk membaca buku.

Karakteristik bangunan fisik Desa Buku di Magelang ini didominasi oleh konsep open space dan berbukit. Hal ini terinspirasi oleh keberhasilan kota buku Hay on-Wey yang berlokasi di tepian sungai Wey di pegunungan Black Mountains, Inggris.

Saat ini kota buku Hay on-Wey memiliki 40 toko buku yang menawarkan koleksi buku-buku kuno dan terbaru atau buku-buku best seller di dunia. Sekitar tiga belas negara di dunia masing-masing telah memiliki desa buku. Malaysia adalah salah satu yang juga baru mencanangkan pendirian desa buku di Lengkawi.

Pada awal pendiriannya, desa buku Taman Kyai Langgeng mengoleksi sebanyak 7000 eksemplar buku yang terdiri dari 4000 judul buku lebih. Buku-bukunya meliputi buku keagamaan, fiksi, novel, hukum, seni, olah raga, sastra, kesehatan, pertanian, teknik, ilmu politik, ekonomi, hobby, peternakan, dan pertanian.

Konsep pendirian desa buku disamping untuk memfasilitasi minat baca masyarakat, juga dimaksudkan agar masyarakat lebih memahami berbagai disiplin ilmu dan kultur budaya lokal maupun internasional. Diharapkan tempat ini pula bisa menjadi wadah para pengarang baik junior maupun senior untuk mencurahkan ide dan kreativitasnya.

Saat ini, kebijakan pemerintah di bidang penyediaan buku (perpustakaan) masih belum jelas arahnya. Perpustakaan-perpustakaan yang ada di sekolah-sekolah atau pun institusi-intitusi pemerintahan boleh dikatakan belum oke . Misalnya saja dalam hal pengadaan infrastruktur, yaitu: sumber daya manusia, anggaran, serta sarana dan prasarana. Bagaimana mungkin perpustakaan dapat dijadikan salah satu sumber belajar, jika pengelolaannya hanya berbekal semangat saja. Mengingat minat baca masyarakat kita pun yang masih relatif rendah, maka upaya maksimal dalam penyediaan fasilitas buku harus lebih ditingkatkan. Maka pendirian desa buku Taman Kyai Langgeng di Magelang diharapkan mampu berperan secara maksimal sebagai salah satu sumber belajar yang efektif.

Sejak pencanangannya pada tahun 2003, Desa Buku Taman Kyai Langgeng masih terus menerus melakukan pembenahan. Baik terhadap bangunan fisik, tenaga kerja, koleksi buku, dan fasilitas penunjang lainnya. Diharapkan pencanangan desa buku ini mampu memberikan dampak yang positif bagi peningkatan minat baca dan penyedia informasi masyarakat khususnya yang berada di wilayah Jawa Tengah.

Desa buku Taman Kyai Langgeng direncanakan akan beroperasi penuh pada tahun 2006 mendatang. Namun jika Anda ingin berkunjung saat ini tentu boleh-boleh saja. Salah satu fasilitas penunjang yang sudah ada yaitu jaringan internet. Mulai saat ini para pustakawan serta penggemar buku atau siapapun yang ingin mencari informasi tentang buku dapat langsung mengakses situs desa buku melalui www.desabuku.com
0 comments share

Blog Entry Internet dan Perpustakaan Sama-sama Disukai Jul 19, '06 4:28 AM
for everyone


Maraknya Internet sebagai penyedia informasi ternyata tak membuat orang (khususnya dewasa) serta merta meninggalkan perpustakaan. Demikian hasil penelitian yang dilakukan Urban Libraries Council (ULC).

Bahkan banyak pengguna Internet yang sekaligus memanfaatkan perpustakaan untuk mencari informasi dan bahan bacaan. Penelitian ULC menunjukkan 75 % kaum dewasa memanfaakan keduanya : Internet dan perpustakaan. Anda dapat membaca hasil penelitian ini, bahkan men-download-nya dalam format PDF melalui situs Urban Libraries.

Namun tetap saja mencari informasi di Internet berbeda dengan di perpustakaan. Kedua sumber ini memiliki kelebihan masing-masing. Menurut responden ULC, perpustakaan unggul dalam hal kemudahan pemanfaatan, rendahnya biaya yang dibutuhkan, tersedianya petugas yang siap membantu dan, yang penting, lebih menjamin keleluasaan. Di sisi lain Internet menang dalam hal : waktu ketersediaan, keterbaruan dan keragaman sumber informasi serta kenikmatan berselancar.

Berangkat dari pendapat responden di atas, maka tidak perlu ada kekhawatiran bahwa meningkatnya penggunaan Internet akan menurunkan penggunaan perpustakaan. Demikian kesimpulan yang dikemukakan para peneliti dari State University of New York yang bekerja untuk ULC.

Yang terpenting menurut Joey Rodger, CEO ULC, 75 % pengguna Internet juga memanfaatkan perpustakaan. Tapi kesimpulan tersebut tak berlaku untuk seluruh usia.

Statistik menunjukkan pengguna Internet berusia 18 - 25 tahun tidak banyak menggunakan perpustakaan. Mereka lebih suka mencari informasi melalui Internet. Tampaknya Internet paling berpengaruh pada kisaran usia ini. Karena itu, Rodger berniat mengulang survey-nya tiap 2 tahun untuk melihat pola penggunaan Internet versus perpustakaan, di kala responden dengan kisaran umur tersebut menjadi lebih dewasa.

Sedangkan anak-anak dan remaja di bawah 18 tahun ternyata lebih rendah lagi minatnya terhadap perpustakaan. Mereka sering menganggap perpustakaan sebagai tempat yang kurang nyaman. Rodger menunjuk ketidakmampuan petugas perpustakaan dalam berkomunikasi dengan kalangan muda sebagai penyebabnya.
0 comments share

Blog Entry Bila Sebuah Buku Demikian Bermutu…. Jul 18, '06 8:33 AM
for everyone
Penulis: Anwar Holid
www.mizan.com

Tidak hanya lagu, buku pun kadang-kadang dirilis ulang. Tentu para penerbit tidak sekadar ingin bernostalgia atau merindukan kembali masa lalu. Sebab ada sesuatu yang berbeda ketika sebuah buku atau lagu diterbitkan ulang. Yang berbeda itu adalah ruh atau nuansanya. Ruh ketika sesuatu yang lama dimunculkan kembali ialah semacam pertaruhan apakah dia masih memiliki daya hidup atau tidak.

Kita ingin merasakan yang berbeda apabila mendapati hal lama yang pernah demikian mengisi ingatan kembali menyeruak mengisi kekinian. Kita berharap mendapatkan energi baru, penyegaran kembali, dan nuansa baru yang dahulu mungkin luput dari perhatian kita. Perhatikanlah misalnya lagu-lagu yang dirilis ulang itu. Selain menawarkan kenangan, kondisi, dan semangatnya memang berbeda. Sering itu dilakukan setelah mempertimbangan banyak hal.

Hal pertama yang mencolok tentu saja pembawanya (dalam hal ini: penerbit). Harus diakui, yang membawakan kembali lagu lama biasanya mereka yang sangat menyukai lagu itu. Jarang penyanyi asli membawakan kembali lagu itu, meskipun bukannya tidak pernah terjadi. Artinya, dia membawakan kembali sesuatu yang demikian berharga, hingga perlu dipelihara nilainya, dan dipertahankan keindahannya. Semacam penghormatan kepada orang yang menciptakannya. Dalam hal penerbitan, sama halnya. Kerap sebuah buku diterbitkan ulang oleh penerbit lain (biasanya lebih muda), karena mereka demikian terinspirasi oleh buku tersebut.

Yang kedua, penerbitan kembali buku lawas biasanya dipicu oleh kondisi tertentu bahwa buku tersebut relevan dengan keadaan kini, atau mampu menerangkan beberapa persoalan yang dianggap mencuat—buku tersebut memenuhi standar keingintahuan saat itu. Ini menyangkut pertimbangan seberapa penting nilai buku tersebut (di kalangan umum) apabila diterbitkan, akan memenuhi kebutuhan apa saja buku tersebut, dan sebagainya.

Yang ketiga, ialah seberapa besar pasar masa kini akan mampu menyerap buku-buku lawas yang dahulu pernah diterbitkan itu? Tentu saja pertimbangan ekonomi sangat penting dalam menerbitkan kembali sebuah buku, baik yang ketika pertama kali diterbitkan langsung menjadi besrt seller atau yang gagal di pasar. Untuk kasus kedua itu, biasanya penerbit biasanya membuat semacam perbaikan (revisi), apakah melalui penyuntingan kembali naskah dan isinya, memberikan kata pengantar dari narasumber yang layak (prominent) atau sekadar melalui penampilannya (minimal perubahan sampul).

Pertimbangan Lain
Bila sistem percetakan penerbit sudah bagus, mereka juga tidak segan-segan untuk menerapkan sistem print-on-demand di bagian penjualan atau produksinya, yakni kemampuan menyediakan buku-buku sesuai permintaan konsumen (pasar). Di Indonesia, teknologi ini tergolong sangat langka, bahkan mungkin belum mampu dilakukan, sebab masih banyak buku-buku lawas yang belum habis diserap pasar, dan masih berusaha ditawarkan dengan berbagai cara, termasuk dengan rabat setengah harga produksinya! Menurut prakiraan, sistem print-on-demand memungkinkan penerbit masih mampu mendapatkan untung meskipun buku tersebut hanya dipesan satu buah saja oleh pembeli.

Buku-buku yang kerap dilupakan orang kadang-kadang juga mendapat perhatian dari penerbit, hingga kemudian mereka memutuskan menerbitkannya kembali. Seri Penguin Classics atau Bantam Classics adalah contoh buku-buku lama yang diterbitkan karena judul itu sudah sukar ditemukan di pasar. Di Indonesia, penerbitan kembali buku Islam dan Keturunan Arab atau Partai Politik di Pentas Nasional oleh Mizan bisa dianggap sebagai respons positif atas buku klasik yang mulai sukar didapat di pasar—sebab penerbit pertamanya tidak menerbitkan kembali buku itu.

Meskipun pengorbanan harus diberikan dan risiko harus ditempuh oleh penerbit yang mau memunculkan kembali buku lama, kita tentu harus berterima kasih untuk beberapa hal. Pertama ialah penerbitan itu akan mengekalkan ingatan kita bahwa buku-buku itu telah membantu dengan cara yang sangat bermakna tentang cara memahami peradaban dan kebudayaan manusia.

Kedua, sumberdaya buku (naskah) itu kadang-kadang sangat sukar ditemukan. Anda tentu akan sangat bisa merasakan betapa bahagianya seandainya seluruh manuskrip buku Pramudya Ananta Toer, Gadis Pantai, yang lenyap oleh keberingasan rezim Orde Baru, bisa diterbitkan ulang—tidak hanya sebagiannya.

Dalam keadaan yang sangat terdesak, kita selalu baru akan bisa merasakan betapa berartinya sesuatu yang lenyap di dalam diri dan ingatan kita. Sering sebuah buku baru bisa diterbitkan kembali setelah naskah aslinya ditemukan di tumpukan buku-buku bekas yang nyaris hancur. Atau atas pertolongan pembaca yang dengan apik merawat buku tersebut. Bila itu yang terjadi, kita tidak saja berutang pada penulis, penerbit, atau penemu naskah itu. Kita agaknya harus pula berterima kasih kepada Alam yang menjaga manuskrip itu tetap utuh dan diselami makna-maknanya. Mungkin untuk mengabadikan nilai luhur itu pula, sebuah penerbit, Hikmah, berani kembali menerbitkan naskah-naskah lama seperti Surat-surat Al-Ghazali karya Abdul Qayyum.

Jadi sidang pembaca, buku lama belum tentu kehilangan nilainya. Sebab seperti kata pepatah: tidak ada buku lama, yang ada adalah buku yang belum kita baca.[]
0 comments share

Blog Entry ANDAIKAN BUKU ITU SEPOTONG PIZZA Jul 18, '06 8:29 AM
for everyone

Penulis: Hernowo

Ya, andaikan buku-buku yang ada di rak-rak perpustakaan adalah "makanan" kesukaan kita. Apa jadinya ya? Tentu kita akan lahap membacanya. Inilah "kunci" untuk membuka gembok yang menyebabkan kita enggan membaca buku.

"Kunci" ini, oleh Stephen Covey (penulis The 7 Habits of Highly Effective People), disebut paradigma. Apaan tuh paradigma? Paradigma adalah kacamata. Paradigma adalah cara kita memandang sesuatu.

Bayangkan Anda memiliki kacamata minus 2. Lima tahun kemudian, Anda harus mengganti kacamata Anda dengan kacamata minus 3. Namun, Anda bersikukuh tak mau mengganti kacamata minus 2 Anda. Apa yang terjadi? Anda merasa pusing apabila melihat sesuatu. Inilah akibat yang timbul dikarenakan Anda mempertahankan paradigma kacamata minus 2 Anda.

Apa ya paradigma Anda berkaitan dengan membaca buku? Mungkin ini: "Wah, boring deh membaca buku yang tebal-tebal itu." Atau ini: "Setiap kali membaca buku ilmiah, saya tentu ngantuk." "Saya pilih nonton sinetron aja deh ketimbang baca buku. Baca buku bikin kepala cepat botak!"

Itulah paradigma---atau kacamata yang Anda gunakan---dalam membaca buku. Memang, tidak semua orang memandang aktivitas membaca buku ilmiah seperti itu. Nah, tulisan ini akan mencoba membantu siapa saja yang merasa masih kesulitan untuk memasuki dunia buku.

Menganggap Buku sebagai "Makanan"

Pertama-tama, untuk memasuki dunia buku, kita perlu mengubah paradigma (atau kacamata) dalam memandang buku. Buku sama saja dengan makanan, yaitu makanan untuk ruhani kita. Bayangkanlah apabila jasmani kita tidak diberi nasi, telur, daging ayam, dan makanan bergizi tinggi lainnya. Apa yang akan terjadi? Tubuh kita akan loyo dan sakit-sakitan.

Demikian jugalah yang terjadi dengan ruhani kita. Buku adalah salah satu jenis "makanan ruhani" kita yang sangat bergizi. Mendengarkan pengajian dan ceramah adalah juga sebentuk "makanan ruhani". Namun, buku kadang memiliki gizi lebih dibandingkan dengan ceramah.

Lewat paradigma-baru membaca buku---dengan menganggap buku sebagai makanan---kita dapat memperlakukan buku laiknya makanan kesukaan kita. Pertama, agar membaca buku tidak lantas membuat kita ngantuk, maka pilihlah buku-buku yang memang kita sukai, sebagaimana Anda memilih makanan yang Anda gemari.

Kedua, cicipilah "kelezatan" sebuah buku sebelum membaca semua halaman. Anda dapat mengenali lebih dulu siapa pengarang buku tersebut. Atau Anda bisa bertanya kepada seseorang yang menganjurkan Anda untuk membaca sebuah buku (misalnya guru, orangtua, atau sahabat Anda). Mintalah kepada mereka untuk menunjukkan lebih dulu hal-hal menarik yang ada di buku itu.

Ketiga, bacalah buku secara ngemil (sedikit demi sedikit, laiknya Anda memakan kacang goreng). Apabila Anda bertemu dengan buku ilmiah setebal 300 halaman, ingatlah bahwa tidak semua halaman buku itu harus dibaca. Cari saja halaman-halaman yang menarik dan bermanfaat. Anda dapat ngemil membaca di pagi hari sebanyak 5 halaman. Nanti, di sore hari, tambah 10 halaman.

Manfaat Membaca Buku

Mengapa gizi sebuah buku melebihi ceramah atau hal-hal lain yang Anda peroleh dari telinga (mendengar) dan mata (melihat) Anda? Sebab, hanya lewat membaca bukulah kita mampu menumbuhkan saraf-saraf di kepala kita. Aktivitas membaca buku menggabungkan banyak aktivitas penting lain.

Pertama, Anda perlu memusatkan perhatian agar sebuah teks yang Anda baca dapat memberikan manfaat kepada Anda.

Kedua, apabila Anda menemukan hal-hal menarik dari sebuah buku, Anda dapat memberikan tanda (seperti menstabilo atau memberikan catatan di pinggir-pinggir marjin buku).

Ketiga, sebuah kalimat yang menarik akan membuat saraf-saraf di otak Anda bekerja secara efektif. Tiba-tiba saraf-saraf itu berhubungan dan membuat Anda dapat menemukan sesuatu yang baru.

Dan, ini yang ajaib, membaca buku akan membuat Anda tetap berpikir! Seorang peneliti dari Henry Ford Health System, bernama Dr. C. Edward Coffey, membuktikan bahwa hanya dengan membaca buku seseorang akan terhindar dari penyakit demensia.

Demensia adalah nama penyakit yang merusak jaringan otak. Apabila seseorang terserang demensia, dapat dipastikan bahwa dia akan mengalami kepikunan atau (dalam bahasa remaja disebut) "tulalit".

Menurut penelitian Coffey, pendidikan (salah satu pendidikan termudah adalah membaca buku) dapat menciptakan semacam lapisan penyangga yang melindungi dan mengganti-rugi perubahan otak. Hal itu dibuktikan dengan meneliti struktur otak 320 orang berusia 66 tahun hingga 90 tahun yang tak terkena demensia.

Membaca dengan Gaya SAVI

Apabila Anda sudah mengubah paradigma membaca buku Anda---bahwa membaca buku seperti memakan pizza---dan sudah memahami manfaat membaca buku, cobalah mulai membaca buku-buku ilmiah saat ini juga. Untuk mempermudah Anda dalam membaca buku, di bawah ini saya sajikan tip-tip Dave Meier yang saya cuplik dari buku-menariknya, The Accelerated Learning Handbook.

Meier menamai tip-tipnya ini "metode belajar gaya SAVI". SAVI adalah singkatan dari Somatis (bersifat raga/tubuh), Auditori (bunyi), Visual (gambar), dan Intelektual (merenungkan). Nah, silakan menggunakan Gaya SAVI dalam membaca sebuah buku, sebagaimana petunjuk berikut.

Pertama, membaca secara Somatis. Ini berarti, pada saat Anda membaca, cobalah Anda tidak hanya duduk. Berdiri atau berjalan-jalanlah saat membaca buku. Gerakkan tubuh Anda saat membaca. Misalnya, setelah membaca 5 atau 7 halaman, berhentilah sejenak. Gerakkan tangan, kaki, dan kepala Anda. Setelah itu, baca kembali buku Anda.

Kedua, membaca secara Auditori. Cobalah sesekali membaca dengan menyuarakan apa yang Anda baca itu (dijaharkan). Lebih-lebih lagi apabila Anda menjumpai kalimat-kalimat yang sulit dicerna. Insya Allah, telinga Anda akan membantu mencernanya.

Ketiga, membaca secara Visual. Ini berkaitan dengan kemampuan dahsyat Anda yang bernama imajinasi atau kekuatan membayangkan. Cobalah bayangkan saat Anda membaca sebuah konsep atau gagasan. Kalau perlu gambarlah! Ini, insya Allah, juga akan mempercepat pemahaman Anda.

Keempat, membaca secara Intelektual. Ini juga berkaitan dengan kemampuan luar biasa Anda. Anda perlu jeda atau berhenti sejenak setelah membaca. Dan renungkanlah manfaat yang Anda peroleh dari pembacaan Anda. Akan lebih bagus apabila---saat Anda merenung itu---Anda juga mencatat hal-hal penting yang Anda peroleh dari halaman-halaman sebuah buku. Insya Allah, Anda akan dimudahkan dalam menuangkan atau menceritakan kembali apa-apa yang Anda baca.

Selamat membaca buku!***
1 comment share

Blog Entry Membangkitkan Minat Baca Anak Jul 18, '06 8:27 AM
for everyone

Luangkanlah waktu Anda sekitar 30 menit saja setiap hari untuk membacakan buku pada putra-putri Anda. Dijamin manfaatnya luar biasa besar. Utamanya kebiasaan itu dapat menciptakan ikatan emosi yang kuat antara orangtua - anak. Selain itu, merangsang anak untuk memperkaya kosa kata dan daya imajinasinya. Keuntungan lainnya adalah memupuk anak agar cinta membaca.

Berdasarkan penelitian 20 % penduduk AS memiliki kemampuan membaca yang lebih rendah dibanding murid kelas V SD. Dan lebih dari 40% orang dewasa yang tingkat bacanya rendah hidup dalam kemiskinan. Itu di AS yang bisa dibilang negara maju. Di Indonesia, mungkin lebih menyedihkan lagi.

Jadi jika Anda tidak ingin menambah statistik ini, mulailah membiasakan diri untuk membaca bagi anak. Lebih dianjurkan lagi jika Anda melakukannya kepada masing-masing anak secara tersendiri (jika anak lebih dari 1). Membacakan buku sebaiknya tetap dilakukan meski anak telah mulai bisa membaca.

Kebiasaan ini bisa Anda mulai bahkan sejak anak masih bayi. Para ilmuan berpendapat 3 tahun pertama anak adalah masa genting untuk menanamkan kemampuan berbahasa. Para pakar itu juga mengemukakan, bayi berusia 8 bulan sudah dapat mengenali dan mengingat bunyi beberapa kata yang sulit. Ini diperoleh dari riset yang dilakukan Universitas John Hopkins.

Penelitian lainnya di Kanada menunjukkan bahwa bayi usia 4 bulan telah dapat memberikan respon terhadap keseluruhan fonem dan di usia 10 bulan bayi sudah bisa fokus pada fonem yang berasal dari bahasanya sendiri dan mengacuhkan bahasa lain.

Dengan demikian, tidak ada istilah terlalu dini untuk mulai membiasakan membaca. Tapi tentu saja buku bagi anak dan bayi berbeda. Anak berusia satu tahun ke atas senang jika dibacakan cerita yang sama berulang-ulang. Pengulangan cerita adalah hal penting bagi anak. Meskipun membosankan bagi Anda. Tambahkanlah sedikit variasi di beberapa tempat. Membaca juga bisa disertai dengan menyanyi dan sentuhan sayang.

Menurut Laura Godwin, Wakil Direktur penerbit Henry Holt & Co., buku untuk bayi sebaiknya yang interaktif. Maksudnya, buku yang dapat merangsang indra penglihatan dan pendengarannya.

Pada dasarnya, untuk menanamkan cinta baca pada anak, jadikanlah waktu membaca sebagai saat yang menyenangkan bagi seluruh keluarga. Beberapa tips berikut, rasanya layak dicoba :

1. Pilihlah ruangan yang menyenangkan bagi Anda dan anak.
2. Ungkapkanlah beberapa pertanyaan saat membacakan buku untuk merangsang anak menyelesaikan masalah dan mengasah kemampuannya.
3. Beri kesempatan pada anak untuk bertanya. Jika Anda tidak bisa menjawabnya, selesaikanlah masalah itu berdua dengan mencoba mencari jawabannya melalui kamus atau ensiklopedia.
4. Ajaklah anak Anda ke perpustakaan dan pilihlah buku-buku bersamanya.
5. Sediakanlah buku-buku di tempat yang lebih mudah dijangkau dibanding mainan.
6. Hadiahkanlah anak Anda buku kosong atau buku harian tempatnya mengungkapkan segala kenangannya.

www.ekuator.com
0 comments share

Blog Entry Biblioterapi: Penyembuhan dengan Membaca Jul 18, '06 8:25 AM
for everyone

Biblioterapi. Terapi dengan membaca ini utamanya digunakan untuk menyembuhkan penderita stres, depresi dan kegelisahan (anxiety). Cara kerjanya adalah dengan berbincang dengan pasien, menemukan bacaan apa yang disukainya, mencari penyebab penyakit atau stres, lalu menawarkan buku yang tepat baginya. Menarik bukan ?

Memang tidak lazim jika seorang dokter memberikan resep berupa sejumlah novel kepada pasiennya. Tapi gambaran ini akan berubah sekitar September mendatang. Di Inggris, ahli medis dan pustakawan telah menjalin kerjasama dalam suatu tim guna merancang suatu program terapi baru: menawarkan bacaan (khususnya novel) bagi pasien dengan beragam keluhan.

Terapi alternatif yang dikembangkan para dokter keluarga di Kirklees, West Yorkshire, ini akan mempertemukan penderita depresi dengan 'biblioterapis' dari perpustakaan setempat. Biblioterapis ini selanjutnya akan memeriksa koleksi buku di perpustakaan guna menemukan buku yang sekiranya sesuai untuk pasien tertentu. Diharapkan, dengan buku yang sesuai, pasien akan mendapatkan inspirasi dan menjadi lebih bersemangat.

Namun program yang penelitiannya didanai oleh pemerintah disamping sumbangan dari lembaga kesehatan dan perpustakaan Inggris ini tidak ditujukan bagi penderita gangguan mental yang hebat. Catherine Morris, pustakawan yang terlibat dalam program ini, menjelaskan biblioterapi ditujukan bagi penderita depresi dan kegelisahan ringan. Ia menganjurkan biblioterapi berdasarkan pengalamannya selama mengelola perpustakaan. Di sana, ia banyak mendengar komentar dari pengunjung yang memperoleh keceriaan kembali setelah membaca kisah tertentu. Mereka merasa lebih bersemangat setelah mengetahui bahwa masalah yang dihadapi ternyata jauh lebih ringan dibanding kisah yang dibacanya.

Biblioterapi ternyata kurang mendapat tanggapan di AS. Karyawan ALA (American Library Association) berpendapat mereka tidak terbiasa melayani resep berisi obat-obatan literatur. Pendapat ini didukung Mary Jo Lynch, Direktur Pusat Penelitian ALA. Menurutnya, julukan biblioterapis tidak tepat karena pustakawan tidak dilatih untuk menjadi seorang ahli terapi. Meskipun demikian Lynch dan pustakawan Amerika lainnya percaya akan efek kuratif buku bagi pembacanya. Bahkan mereka sebenarnya telah mempraktekkan biblioterapi pada pengunjung perpustakaan.

Konsep biblioterapi sebenarnya bukan hal baru. Ide ini bersumber dari pendapat Aristoteles bahwa tragedi menimbulkan rasa haru dan simpati pada seseorang. Perasaan semacam ini dapat 'membersihkan diri' dan selanjutnya menjadikan seseorang lebih sehat. Brian Bremen, profesor yang memberi kuliah keterkaitan literarur dan penyembuhan di University of Texas, mengemukakan ide inilah yang dikembangkan sekarang ini. Dengan pendekatan modern ditemukan bahwa dengan membaca seseorang dapat mengenal dirinya. Pemahaman ini berdampak positif pada perilaku seseorang.
1 comment share

Blog Entry Menjadi Pembaca Sepanjang Hayat Jul 18, '06 8:20 AM
for everyone
Membaca menyangkut dua hal penting: kemampuan dan perilaku. Dengan kata lain, membaca merupakan kombinasi pemahaman cara membaca dan keinginan untuk melakukannya. Memberi pelajaran membaca pada anak adalah hal mendasar yang harus dilakukan. Tapi untuk membentuk pembaca sepanjang hayat adalah persoalan yang rumit karena menyangkut faktor yang jauh lebih luas.

Dan yang penting, keinginan membaca tumbuh dari pemahaman bahwa buku atau karya tulis berisi sesuatu yang menarik dan bermanfaat bagi seseorang. Banyak guru kini merasa bangga hanya karena bisa menyediakan banyak buku di perpustakaan sekolah. Atau, bangga dengan banyaknya buku yang harus dipakai untuk suatu mata pelajaran. Nyatanya itu tidak menjadikan seorang anak memiliki kebiasaan membaca. Anak yang kelak menjadi pembaca sepanjang hidup tidak saja harus memiliki akses terhadap bacaan, tetapi mereka juga bisa menentukan apa yang akan dibaca.

Masalahnya seringkali justru gurulah yang membatasi bacaan muridnya. Mereka biasanya hanya menugaskan membaca buku yang sesuai dengan kurikulum. Para guru tersebut tidak terlalu menyokong membaca demi kesenangan.

Berbeda halnya dengan pustakawan sekolah. Tujuan mereka adalah membiasakan anak memilih sendiri materi bacaanya. Memang perbendaharaan buku perpustakaan tidak terbatas pada kurikulum saja tapi juga diusahakan untuk tujuan yang lebih luas: menjadikan belajar dan membaca sebagai kebiasaan.

Buku yang dapat mewujudkan tujuan itu adalah yang memungkinkan anak-anak memikirkan dan membaca apa yang mereka ingin pelajari atau baca. Yakni buku yang menguak sesuatu topik yang mungkin belum pernah dibayangkan; juga buku yang memuat keanekaan dan kebebasan. Namun pendidik sebaiknya mempengaruhi mereka untuk kembali membaca buku dari penulis, topik atau seri yang telah dikenal. Hal semacam inilah yang dapat mengubah pembaca pemula menjadi mahir. Para pembaca mahir dapat bebas menentukan kapan mereka ingin membaca, apa yang ingin dibaca dan seberapa banyak yang ingin dibaca. Perilaku inilah yang membentuk pembaca sepanjang masa.

Sedemikian pentingnya membaca, hingga muncul beberapa program untuk meningkatkan kemampuan membaca. Di Amerika Serikat, setidaknya ada dua program populer: the Lexile Framework dan Advantage Learning's STAR Reading. Sistem yang dipakai adalah dengan mengambil beberapa kata dan kalimat dalam buku. Selanjutnya kata atau kalimat tersebut ditentukan tingkat kerumitannya yang akan digunakan untuk mengukur tingkat kemampuan membaca. Program ini mungkin terkesan remeh. Tapi sebagian orang butuh data ini. Pendidik, misalnya, dapat memanfaatkan data ini untuk menentukan buku teks yang akan digunakan dalam kelas.

Tapi sayangnya ukuran ini tidak sepenuhnya dapat dijadikan acuan. Salah satu alasannya, tingkat membaca hanya ada satu untuk sekian banyak jenis bacaan. Padahal tingkat kemampuan seseorang dalam membaca novel berbeda dengan buku berisi informasi, misalnya.

Betapapun program membaca adalah salah satu usaha untuk membentuk pembaca sepanjang hidup. Yang penting, harus tersedia akses buku seluas-luasnya bagi anak-anak. Mereka juga harus dibimbing untuk memilih bacaan. Tugas membimbing ini bukan sesuatu yang ringan. Para pembimbing harus memiliki pemahaman yang baik mengenai buku dan anak-anak. Mereka harus memahami bacaan apa yang diinginkan anak-anak pada waktu-waktu tertentu. Kemampuan untuk melayani berbagai permintaan tentu membutuhkan pengetahuan dan keahlian. Dan inilah yang menentukan keprofesionalan seorang pendidik.

www.ekuator.com
0 comments share

Blog Entry Buku dalam Rekor Jul 18, '06 8:16 AM
for everyone
Inilah beberapa rekor yang dikutip dari Guinness Multimedia Disc of Records:

* Buku yang terlama bercokol pada daftar bestseller koran The New York Times adalah The Road Less Traveled, karya M. Scott Peck, yaitu selama 598 minggu sampai 14 April 1995. Buku ini telah dicetak lebih dari 5 juta eksemplar.
* Buku yang paling lambat penjualannya adalah terjemahan Perjanjian Baru dari bahasa Koptik ke bahasa Latin oleh David Wilkins. Dicetak oleh Oxford University Press pada 1716 sebanyak 500 eksemplar, buku ini baru habis 191 tahun kemudian—atau rata-rata terjual satu eksemplar setiap 20 minggu.
* Cetakan pertama terbesar untuk buku fiksi adalah sejumlah 2,8 juta eksemplar, yaitu untuk novel keenam John Grisham, The Rainmaker. Novel-novel Grisham sendiri diperkirakan telah terjual sebanyak 55 juta eksemplar di seluruh dunia. Film-film yang diadaptasi dari novelnya (The Firm, The Pelican Brief, dan The Client) meraup 572 juta dolar (1,37 triliun rupiah) di seluruh dunia.
* Setelah dihitung, Charles Harold St. John Hamilton, alias Frank Richards (1876-1961), telah menulis 72-75 juta kata selama hidupnya. Pada masa puncaknya (1915-1926), ia menulis 80 ribu kata per minggu untuk mingguan Gem, Magnet dan Boys Friend—semuanya terbit di Inggris.
* Novelis yang terbanyak menerbitkan buku adalah Jose Carlos Ryoki de Alpoim Inoue (lahir 22 Juli 1946), asal Brasil, yaitu sebanyak 1.020 judul.
* Tatkala Victor Hugo pelesir pada 1862, ia sangat ingin tahu bagaimana penjualan novel terbarunya, Les Miserables, yang belakangan sangat terkenal itu. Pesan yang ia kirimkan pada penerbitnya adalah "?". Dan jawaban yang diperolehnya adalah "!". Jadilah ini surat-menyurat yang terpendek.
* Novel terpanjang adalah Tokuga-Wa Ieyasu, karya Sohaochi Yamaoka, yang dimuat berseri pada sebuah harian Jepang sejak 1951. Sekarang serial itu telah selesai, dan jika diterbitkan paling tidak akan terdiri dari 40 jilid.
* Penulis fiksi yang bukunya paling banyak terjual adalah Agatha Christie (1890-1976). Sejumlah 78 novel kriminalnya diperkirakan telah terjual 2 miliar eksemplar dalam 44 bahasa. Royalti yang diterimanya diperkirakan sekitar 4,25 juta dolar (10,2 miliar rupiah) setahun.
* Perpustakaan terbesar di dunia adalah Library of Congress, AS, didirikan pada 1800, yang menyimpan hampir 108 juta item. Panjang rak perpustakaan ini sekitar 851 kilometer, dan memperkerjakan 4700 karyawan.
* Aneh-aneh saja pengarang humoris Konstantin Arsenievich Mikhailov (lahir 1968). Ia punya 325 pseudonim (nama samaran), seperti yang tertera dalam Dictionary of Pseudonyms. Sebagian besar nama samaran itu mengutak-atik namanya yang sebenarnya.
* Buku terkecil yang pernah dipasarkan adalah seberat 22 gram, berukuran 3,73 cm x 3,75 cm yang berisi cerita anak-anak Old King Cole, dan dicetak hanya 85 eksemplar pada Maret 1985. Halaman buku ini hanya dapat dibuka dengan sebuah jarum. Itu pun harus dengan sangat hati-hati.

0 comments share

Blog Entry Al Kindi Al Kindi: Peletak Fondasi Ilmu Jul 18, '06 8:06 AM
for everyone


Inilah pemikir muslim yang dijuluki "Filsuf dari Arab". Namun tidak berarti hanya filsafat-lah yang digelutinya. Bahkan sebenarnya Al Kindi (Alkindus - Latin) menguasai berbagai bidang ilmu dan konon juga musik. Sepanjang hidupnya ia menghasilkan sekitar 241 buku yang didedikasikan pada bidang - antara lain: astronomi, aritmatika, kedokteran, fisika dan tentu saja - filsafat.

Pada abad pertengahan ada beberapa buku Kindi yang diterjemahkan ke dalam Bahasa Latin, contohnya: Risalah dar Tanjim, Ikhtiyarat al-Ayyam, Ilahyat-e-Aristu, al-Mosiqa, Mad-o-Jazr dan Aduhiyah Murakkaba. Sayangnya sekarang ini buku asli Kindi tidak lagi bisa dijumpai.

Karya Kindi merupakan fondasi dasar bagi pengembangan ilmu sekarang ini. Sebagai contoh, komentar yang pernah dikemukakannya beberapa abad lalu - mengenai pengukuran lingkaran oleh Archimides, mendapat perhatian serius pada dekade 1990-an. Publikasi penelitian ini diterbitkan tahun 1993 oleh Rashed.

Al Kindi lahir di Kufah (Iraq) sekitar tahun 801 (Masehi). Ia berasal dari keluarga terpelajar dan terpandang. Ayahnya, Ishaq b. Sabbah, adalah gubernur yang diangkat oleh Khalifah 'Abbasiyah al Mahdi dan Harun al Rasyid. Dengan kondisi ini Al Kindi mendapat kesempatan luas untuk menuntut ilmu. Setelah menyelesaikan pendidikan dasarnya Al Kindi meminta izin pada ayahnya untuk melanjutkan studi di Bashrah, yang pada waktu itu merupakan pusat kegiatan intelektual.

Kecerdasan Al Kindi mengundang perhatian Khalifah Al Ma'mun di Baghdad. Ia mengundang Kindi untuk turut serta dalam kegiatan ilmiah di Bayt al Hikmah - semacam pusat pengkajian dan penerjemahan. Al Kindi menyambut undangan tersebut - apalagi Baghdad terkenal sebagai kota termegah sekaligus termaju dalam kebudayaan dan ilmu pengetahuan kala itu, dengan demikian gerbang pengembangan pengetahuan semakin terbuka lebar baginya.

Al Ma'mun telah melengkapi Bayt al Hikmah dengan berbagai naskah penting dari Byzantium, sehingga menjadikannya sebagai perpustakaan terkemuka selain perpustakaan di Alexandria, Mesir. Selain itu ada pula observatorium, tempat pemikir muslim mengembangkan ilmu astronomi.

Proyek pertama yang diterima Kindi adalah menerjemahkan dan merevisi sejumlah naskah hasil karya ilmuan Yunani terkenal. Meskipun terpesona dengan pemikiran Aristoteles, Plato, Porphyry dan Proclus, Al Kindi tidak mutlak sependapat dengan mereka. Contohnya, ia mengritik teori Yunani di bidang kimia yang menyatakan logam dasar dapat diubah menjadi logam mulia. Menurut Kindi, reaksi kimia tidak bisa menyebabkan transformasi unsur. Dengan kata lain, manusia tidak bisa meniru proses alam secara sempurna.

Dalam bidang matematika ia menulis 4 buku mengenai sistem angka dan memberi inspirasi bagi aritmatika modern. Di bidang fisika, ia mempelopori optik geometris dan membuat buku tentangnya. Bukunya ini bahkan dijadikan panduan oleh Roger Bacon. Sedangkan dalam ilmu kedokteran, Kindi yang pertama mengenalkan perumusan dosis obat secara sistematis.

Secara ringkas jumlah buku yang dihasilkan Kindi berdasarkan bidang ilmu adalah: Astronomi (16), Aritmatika (11), Geometri (32), Kedokteran (22), Fisika (12), Filsafat (22), Logika (9), Psikologi (5) dan Musik (7).

Kontribusi Kindi di berbagai cabang ilmu semakin menokohkannya sebagai pemikir muslim terkemuka. Adalah tepat jika Cardano, ilmuan abad pertengahan, menempatkannya sebagai salah satu dari 12 pemikir terkemuka di dunia.
0 comments share

Blog Entry Meresensi Buku dalam Setting "Mengikat Makna" Jul 18, '06 8:05 AM
for everyone
Penulis: Hernowo
www.mizan.com

Jika ada yang bertanya kepada saya--dan jawaban yang diharapkan dari saya sifatnya praktis, tidak filosofis--tentang apa sih arti "mengikat makna", saya akan menjawab, "Mengikat makna' adalah meresensi buku." Cuma itu? Ya.

Ketika saya belum memiliki pengalaman menulis secara "fun", saya banyak berlatih menulis dalam konteks meresensi buku. Dalam bahasa saya, ketika saya meresensi

Jika saya membaca buku, itu berarti saya sedang membaca pergulatan pemikiran pengarang buku tersebut. Saya, misalnya, mencermati dan menyeleksi benar mana tulisan si pengarang yang menarik perhatian saya. Apa kriteria menarik perhatian itu? Menarik perhatian yang saya maksud adalah apa-apa yang ditulis atau dirumuskan oleh si pengarang itu sangat cocok dengan keadaan diri saya--khususnya cocok (match) dengan pengalaman saya yang saya miliki.

Saya kumpulkan tulisan-tulisan si pengarang yang cocok dengan pengalaman saya, dan kemudian saya tuliskan kembali (pindah/salin) ke buku harian saya. Semakin banyak tulisan si pengarang yang saya kumpulkan, berarti buku yang dikarangnya itu mengasyikkan diri saya. Saya merasakan sekali, sewaktu saya menemukan rumusan si pengarang yang cocok dengan pengalaman diri saya, diri saya berkembang.

Berkembang? Ya. Ketika membaca buku, saya--sebagaimana diungkapkan oleh Ursula Le Guin--sebenarnya sedang membaca diri saya lewat pengalaman orang lain. Buku--merujuk ke Kuntowijoyo--adalah kumpulan "pengalaman batin" seseorang yang telah distrukturkan. Jika kita rajin membaca buku--tentu, buku yang saya maksud di sini adalah buku yang berisi pergulatan pemikiran si penulisnya--itu berarti kita rajin belajar dari pengalaman orang lain, termasuk (menurut saya) belajar dari pengalaman diri sendiri.

Nah, ketika saya membaca buku, karena di dalam diri saya sudah tersimpan pelbagai pengalaman batin, pengalaman batin saya lantas bersentuhan (tepatnya, berinteraksi) dengan pengalaman batin si penulis buku. Persentuhan yang akrab dan sangat intim akan membuat saya berada dalam keadaan yang "fun"--meski juga, kadang, ada semacam "ketegangan". Bertemunya pengalaman saya dan pengalaman si penulis buku itulah yang membuat diri saya berkembang.

Ciri-ciri perkembangan diri yang saya alami, di antaranya, adalah saya jadi dapat mengoreksi sekaligus memperbaiki pengalaman saya. Saya jadi dapat membuat diri saya kaya raya akan "pengalaman batin". Dan, ada kemungkinan, saya diteguhkan sebagai manusia karena saya menemukan bahwa, ternyata, pengalaman yang dituliskan oleh seorang penulis-sukses sama persis dengan pengalaman saya. Inilah manfaat-hebat dari membaca buku menurut saya.

Akhirnya, ketika saya mencuplik dan mengumpulkan tulisan-tulisan yang menarik perhatian saya dari sebuah buku, saya sebenarnya sedang mencuplik pengalaman saya dalam bahasa seorang penulis-sukses yang bukunya saya baca. Jika cuplikan yang saya kumpulkan cukup banyak, saya lalu dapat memetakan kandungan buku yang menarik bagi diri saya. Saya pun lantas mampu "mengikat" semua itu sesuai keinginan saya. Jadilah kemudian sebuah resensi buku yang sangat bermakna bagi diri saya.

Langkah meresensi buku yang barusan saya uraikan tersebut, biasa saya istilahkan sebagai teknik "menggunting dan merekatkan" (atau cutting and glueing--dalam bahasa Inggris pasaran yang sudah saya sesuaikan dengan keadaan diri saya). Ini merupakan cara meresensi buku yang dapat dilakukan oleh seorang pemula. Manfaat meresensi buku seperti ini adalah dapat memberikan peluang sangat besar kepada seseorang untuk berlatih menulis dengan bantuan "bahasa" orang lain. Inilah juga yang dapat membuat seseorang jadi melakukan kegiatan membaca buku secara efektif (ada efeknya terhadap pengembangan diri).

Jika langkah pertama meresensi buku--dengan teknik "cutting and glueing"--sudah berkali-kali dilewati, saya kemudian mendorongnya untuk meningkatkan kadar kegiatan meresensi buku ke langkah yang lebih tinggi. Langkah selanjutnya ini saya sebut sebagai teknik "focusing" atau memusatkan perhatian pada satu hal yang ada di dalam buku yang menarik perhatiannya. Dia, misalnya, dapat memusatkan perhatian pada sosok pengarang atau penulisnya.

Bagaimana latar belakang pendidikan si penulis? Mengapa dia menulis buku ini dan bukan itu? Apakah ada keistimewaannya? Apakah ada yang dapat dipelajari dari pengalamannya menulis? Jika seseorang dapat meresensi sosok penulisnya, tentulah orang itu sekaligus dapat belajar bagaimana menjadi penulis yang berhasil--sebagaimana buku dan penulisnya dia pilih sendiri untuk dibaca. Atau, selain itu semua, dia kemudian dapat memetik hikmah dari kekayaan pengalaman luar biasa yang dimiliki si penulis.

Tak hanya sosok penulisnya yang dapat disorot lewat teknik "focusing". Seorang peresensi buku juga dapat memperhatikan secara cermat dan saksama tentang desain sampul buku, jika dia memang suka dan punya pengalaman dalam bidang rancang-merancang sampul. Atau, dia juga dapat fokus pada bagaimana buku itu diorganisasikan, dirancang bab-babnya, atau dibangun oleh si penulis. Seorang peresensi yang menggunakan teknik "focusing" akan sangat terbantu dalam meresensi buku jika dia memahami dengan baik anatomi buku--apa saja sih komponen-komponen penting pembangun buku.

Teknik tertinggi dalam meresensi buku saya sebut sebagai teknik "comparing". Akan lebih bagus jika orang yang ingin menggunakan teknik ketiga ini sudah melewati (atau sudah berlatih secara cukup lama dengan) kedua teknik sebelumnya--"cutting and glueing" dan "focusing". Kenapa? Sebab, kedua teknik sebelum teknik "comparing" ini akan mempertajam dan memuluskan penggunaan teknik "comparing". Dalam bahasa yang sederhana, teknik ketiga ini bisa disebut sebagai teknik membandingkan.

Karena membandingkan, maka yang dia baca tidak hanya satu buku yang ingin diresensi, tetapi juga buku lain, baik buku dengan tema sejenis yang ditulis oleh penulis berbeda atau buku berbeda yang ditulis oleh penulis yang sama. Dalam teknik membandingkan, yang perlu "diikat" oleh seorang peresensi jadi cukup banyak dan terukur. Dan sewaktu seorang peresensi meggabung-gabungkan apa-apa yang mau "diikat", dia perlu menganalisis lebih jeli dan, itu tadi, terukur.

Bagaimana bentuk-bentuk hasil resensi dengan menggunakan tiap-tiap teknik tersebut? Tentu, saya tak akan mencontohkannya. Saya juga tak akan menunjukkan bahwa hasil yang satu akan lebih baik dari hasil yang lain. Saya sedang tidak berbicara soal hasil. Saya hanya ingin seseorang dapat memanfaatkan kegiatan baca-tulis untuk "mengikat makna" hidupnya--baik lewat buku yang dibacanya maupun lewat medium yang lain.

Setelah saya berlatih "mengikat makna" lewat proses meresensi buku, saya kemudian merasakan bahwa semakin lama saya bergaul dengan banyak buku, semakin lama pula kemampuan menulis saya mencuat-hebat. Lama-lama saya pun jatuh cinta pada buku dan kegiatan membaca buku. Lho kok? Ya, saya jatuh cinta lantaran buku benar-benar mengayakan diri saya dan membuat saya dapat mendeteksi diri saya yang terus-menerus berubah.

Pada akhirnya, proses "mengikat makna" saya perpanjang dan perlebar ke mana-mana. Tak hanya buku yang saya resensi. Saya melanjutkan proses "mengikat makna" dalam konteks apa saja. Pokoknya jika saya bersentuhan dengan hal-hal yang bermanfaat bagi diri saya, saya langsung menuliskannya. Misalnya, saya tiba-tiba memperoleh sesuatu yang bermanfaat dari menonton film, mendengarkan musik, atau, bahkan, ketika melihat diri saya sendiri, langsung saja hal-hal yang bermanfaat itu cepat-cepat saya sikat--eh, "ikat"!

Ya, akhirnya, saya mempersepsi bahwa menulis (atau "mengikat makna") itu dapat membantu saya dalam mengenali pikiran, perasaan, dan apa pun yang bergejolak di dalam diri saya. Karena saya merasakan manfaatnya bagi diri saya sendiri, saya pun kemudian berjanji kepada diri saya bahwa saya akan melakukan "mengikat makna" setiap hari. Dan itulah yang kemudian saya sebut sebagai--sekaligus saya jajakan ke mana-mana agar siapa saja mau--menulis catatan harian (diary).

"Kita membaca buku untuk mencari tahu tentang diri kita sendiri. Apa yang dilakukan, dipikirkan, dan dirasakan oleh orang lain--entah hal-hal itu nyata atau imajiner--merupakan petunjuk yang sangat penting terhadap pemahaman kita mengenai apa sebenarnya diri kita dan bisa menjadi seperti apakah diri kita ini," ujar Ursula Le Guin.

Semoga bermanfaat.
0 comments share

Blog Entry VERY-VERY-SPEED READING Jul 18, '06 8:00 AM
for everyone

Penulis: Hernowo
www.mizan.com

Judul tulisan ini bisa jadi tidak tepat atau tidak memenuhi aturan berbahasa Inggris yang benar. Dalam aturan berbahasa Inggris, "very" termasuk kata sifat sekaligus kata keterangan. Dalam Kamus Inggris Indonesia karya John M. Echols dan Hassan Shadily, the very day dapat berarti pada hari itu juga. Di sini "very" merupakan kata sifat. Contoh lain, He's the very man I want to see yang berarti Dialah yang saya ingin jumpai.

Sebagai kata keterangan, "very" lebih mudah digunakan dan kerap kita jumpai. Misalnya dalam kata-kata sebagaimana berikut ini: very good (baik sekali), very soon (dengan sangat segera), She was the very first to arrive (Dialah yang pertama-tama tiba), atau I was very surprised (Saya sangat heran). Tampak bahwa dengan kata satu "very" saja, sebuah kata yang ditempeli kata tersebut akan diterangkan menjadi sesuatu yang sangat atau lebih dari biasanya.


Bagaimana dengan "very" yang dilipatgandakan menjadi dua kali? Tentulah dalam aturan berbahasa Inggris, bisa jadi pelipatan ini tidak perlu. Namun, dalam kondisi tertentu yang tidak normal, bisa jadi perlu. Yang jelas, jika Anda ingin memaknai judul tulisan ini, Anda perlu membuang lebih dahulu seluruh aturan yang resmi. Lewat judul itu, Anda ingin diajak untuk memasuki alam Indonesia yang aturan kebahasaannya mungkin sangat jauh berbeda dengan yang ada di alam Inggris.


Judul itu ingin menggambarkan sesuatu yang telah terjadi ketika saya mengikuti sebuah seminar bertajuk "Speed Reading". Kebetulan, saya memiliki buku berjudul Quantum Reading. Ketika saya selesai mendemonstrasikan cara-cara membaca ala Quantum Reading, tanpa sadar di dalam diri saya bergolak sesuatu yang aneh. Saya merasakan bahwa saya seperti berada di suatu wilayah yang bukan sekadar memerlukan kecepatan untuk membaca. Saya ternyata sudah melewati keadaan itu dan berada di wilayah membaca secara mengkuantum.


Dalam arti yang sebenarnya--sebagaimana disampaikan oleh penulis Quantum Reading, Bobbi DePorter dan Mike Hernacki--kuantum adalah "interaksi yang mengubah potensi menjadi pancaran dahsyat kegairahan dan kegembiraan". Apabila kata "kuantum" digandengkan dengan kata "membaca", ini berarti interaksi itu terjadi dalam konteks kegiatan membaca. Seorang yang sedang membaca buku, dan dia memahami benar teknik-teknik membaca buku secara mengkuantum artinya interaksi dia dengan pikiran penulis yang ada di buku itu diharapkan dapat mengubah potensinya menjadi sesuatu yang memancar terang sebagaimana cahaya yang menyinari kegelapan.


Dalam arti yang lebih khusus, si pembaca tersebut bukan hanya akan lebih cepat dalam membaca buku yang dibacanya, namun dia juga merasakan adanya perubahan-perubahan di dalam diri yang sangat signifikan. Dia tidak hanya memahami apa yang dibacanya dalam waktu yang cepat, namun dia juga dapat memaknai hal-hal yang dibacanya, sehingga dirinya terlibat secara intens dengan yang dibacanya. Akhirnya, setelah proses quantum reading usai, dirinya kemudian berubah menjadi berbeda dengan sebelumnya dan perubahan itu membawanya untuk lebih bersemangat dan bergairah lagi membaca buku yang lain guna memperbaiki dirinya secara berkelanjutan.


"Very very speed reading" ingin melukiskan keadaan seorang pembaca buku yang menjalankan secara hampir sempurna teknik-teknik membaca secara mengkuantum ketika dia sedang membaca buku. Bagaimana agar seseorang yang membaca buku secara mengkuantum? Pertama, dia perlu memiliki "alat" pendeteksi membaca bernama AMBAK. AMBAK ini adalah akronim dari "Apa Manfaatnya Bagiku?" Dalam kaitannya dengan membaca buku, AMBAK digunakan untuk mencari lebih dahulu manfaat sebuah buku yang ingin dibacanya. Apabila seseorang tidak menemukan manfaat lebih dahulu ketika ingin membaca sebuah buku, dan dia langsung saja membaca buku tersebut, ada kemungkinan dia akan mengalami keadaan yang sebaliknya dari mengkuantum.


AMBAK dapat dijalankan secara sangat efektif apabila seseorang mau bertanya kepada dirinya. Misalnya, "Apa untungnya saya membaca buku X?" Pertanyaan lain bisa berbentuk gugatan atau pengejaran, misalnya: Mengapa saya perlu membaca buku ini dan bukan buku itu? Apakah buku yang akan saya baca ini akan memberikan sesuatu yang luar biasa bagi perkembangan diri saya? Apakah buku yang ingin saya baca ini akan membuat saya bermakna dan membawa diri saya melayang? Dari mana saya harus memulai membaca buku ini agar saya langsung memperoleh manfaat yang melimpah?


Tujuan penggunaan "alat" bernama AMBAK, sebelum memulai membaca buku, adalah untuk membangkitkan daya hebat otak kanan. Di dalam otak kanan, tersimpan pikiran-pikiran yang berkaitan dengan semangat, kegairahan, kegembiraan, dan antusiasme. Apabila hal-hal ini tidak dapat dibangkitkan lebih dahulu ketika ingin mengawali kegiatan membaca buku, ada kemungkinan besar proses pembacaan akan berhenti di tengah jalan atau kegiatan membaca tersebut akan menghadirkan kemalasan.


Kedua, setelah menggunakan AMBAK, seorang pembaca buku yang ingin membaca secara mengkuantum, perlu memahami kaitan penting antara membaca dan menulis. Kaitan penting ini kemudian akan mengantarkannya ke satu muara yang bernama "mengikat makna". Program "mengikat makna" akan membantu seseorang yang telah menerapkan AMBAK secara habis-habisan untuk mengefektifkan kegiatan membacanya. Inti program "mengikat makna" adalah menemukan sesuatu di buku yang memang bermakna dan kemudian makna itu diikat atau dituliskan agar tidak gampang lepas.


Proses pengikatan atau penulisan itu perlu melibatkan diri si pembaca secara sangat intens. Artinya, makna yang ditemukan itu bukan sekadar makna atau "makna yang dirumuskan" oleh buku atau medium lain. Makna yang harus ditemukan adalah "makna yang dihayati", yaitu makna yang merupakan penyatuan antara pengalaman dirinya dan pengalaman si penulis buku. Sebagai contoh, jika seorang pembaca menemukan deretan kata yang menarik hatinya ketika membaca sebuah buku, maka deretan kata itu tidak sekadar deretan kata yang dirumuskan oleh sesuatu yang berasal dari luar dirinya. Namun, deretan kata itu memang bisa menjadi bagian dari dirinya meskipun deretan kata itu diciptakan oleh orang lain--yaitu si penulis buku.


Nah, untuk dapat menjadikan deretan kata bermakna itu merupakan bagian dari dirinya, dia harus kemudian menuliskan dalam bentuk yang diinginkan atau dihayati oleh dirinya. Apabila dia dapat menuliskannya, tentulah makna yang tampil, yang dia ambil dari sebuah buku, akan menjadi sebuah "makna yang dihayati". Inilah program "mengikat makna" yang mendekati sempurna. Bayangkan apabila seorang pembaca buku dapat menemukan dan mengumpulkan sebanyak-banyaknya "makna yang dihayati"? Ada kemungkinan besar, dia akan mengkuantum bersama buku yang dibacanya.


Ketiga, setelah AMBAK dan program "mengikat makna", seorang pembaca buku yang ingin membaca secara mengkuantum, dapat menambah "senjata" untuk membaca dengan alat-alat tambahan seperti teknik membaca SAVI, metode "mind mapping", dan membaca dengan menggunakan "Multiple Intelligences". Alat-alat tambahan ini merupakan alat-alat yang praktis meskipun bukan bersifat alat fisik. Semua ini adalah alat-alat yang lebih mementingkan hal-hal nonfisik. Inilah alat-alat yang dapat membawa seseorang untuk menggunakan hampir seluruh organ atau potensi otaknya (whole brain).


Bagaimana caranya menggunakan alat-alat ini? Tentu memerlukan pembahasan tersendiri. Yang jelas, alat-alat ini baru dapat dioperasikan secara mendekati sempurna apabila seseorang dapat memasuki wilayah yang oleh Eric Jensen disebut sebagai brain-based learning. Menurut konsep ini, siapa pun orang itu, apabila dapat memahami cara otak bekerja ketika menjalankan sesuatu, dia akan dapat meraih hasil yang luar biasa dalam menyelenggarakan kegiatan tersebut. Dalam bahasa saya, berkaitan dengan kegiatan membaca buku, itulah yang disebut membaca secara mengkuantum atau "very very speed reading".

Semoga bermanfaat.[]
0 comments share

Blog Entry Ruh dan Raga Buku Jul 18, '06 7:57 AM
for everyone

Oleh Dian R Basuki
Pecinta Buku


Sepintas, tak ada yang ''salah'' pada buku baru itu. Dari segi fisik, karya tokoh ternama itu normal-normal saja: berukuran sedang, bersampul agak tebal, dan tidak ada halaman yang raib ataupun terlipat. Cetakannya bagus. Nyaris tanpa cacat. Lagi pula, atas dasar apa mengkategorikan sebuah buku ''benar'' dan buku yang lain ''salah''? Jika berbicara perihal gagasan, bisa saja orang berdebat ihwal benar dan salah. Namun, soal fisik buku?

Kita memang tidak perlu terjebak dalam kubangan hitam-putih semacam itu ketika menimbang sebuah buku. Dalam tataran yang serba-relatif, sesungguhnya banyak sisi yang dapat kita kupas tatkala mencermati sebuah buku. Sampul, misalnya, adalah objek yang menarik untuk dibicarakan. Ia, tak seperti yang kerap disalahpahami, bukanlah sekadar halaman muka tempat meletakkan judul dan gambar. Juga bukan perekat belaka agar buku menjadi kukuh secara fisik dan enak dibawa.

Ibarat pintu masuk ke dalam rumah, sampul buku adalah tempat pembaca mengetuk dan kemudian diajak masuk oleh tuan rumah - si penulis buku - untuk menyusuri lorong-lorong gagasannya. Lantaran itu, dibutuhkan kepiawaian tersendiri dalam merancang sampul agar calon pembeli tertarik kepada sebuah buku. Merancang sampul bukanlah memasang gambar, meletakkan judul, memberi warna, melainkan menyarikan isi, gagasan, pikiran, dan semangat buku itu lalu merefleksikannya menjadi sebuah desain yang berkarakter.

Tak pelak, kepiawaian merancang sampul buku adalah perpaduan antara ketrampilan teknis dalam memilih serta mengolah teks dan grafis, kemampuan dalam memahami gagasan penulis, kepekaan dalam menangkap semangat buku tersebut, serta naluri estetika perancang. Dan jamak bahwa seorang perancang sampul buku membutuhkan waktu cukup lama untuk mampu mengekspresikan kembali semua itu.

Lantas, apa hubungannya dengan soal ''salah'' dan ''benar'' pada buku baru tadi? Tak ada.

Perkaranya bukanlah salah dan benar, melainkan ini: sampul buku itu gagal mengekspresikan karakter gagasan-gagasan yang dituangkan si penulis dalam bukunya. Tak ubahnya sebuah tempelan, sampul tersebut seolah ''lepas'' dan ''berbicara'' sendiri. Ia tidak berfungsi sebagai pintu masuk, sebagai ''juru bicara'' si penulis, dan karena itu gagal menjalankan fungsi marketing-nya, yakni membujuk calon pembaca untuk membeli buku tersebut. Tak jarang seorang penulis ''berbicara'' ke kanan, perancang sampulnya ''berbicara'' ke kiri.

Kita memang kerap alpa bahwa segi-segi fisik sebuah buku - sebutlah itu perwajahan sampul, tata letak halaman, ukuran buku, jenis dan ukuran huruf, mutu cetak, kualitas penjilidan, endorsement, dan seterusnya - adalah bagian tak terpisahkan dari ruh buku - gagasan, alur pikir, gaya penulisan, semangat, dan karakter yang diekspresikan oleh penulis. Benar bahwa ''ruh'' sebuah buku telah mampu berbicara sendiri kepada pembacanya. Namun, ia tidak utuh tanpa medium.

Sayang, memang, banyak dari mereka yang berkecimpung dalam penerbitan kurang menaruh perhatian kepada segi-segi ragawi buku. Banyak buku memiliki ruh dan jiwa yang kuat; akan tetapi, sebagai satu keutuhan ia dilemahkan oleh kegagalan mengekspresikannya ke dalam wujud fisik. Lebih banyak lagi buku yang jiwanya lemah, tidak berkarakter, dan diekspresikan secara lahiriah dengan lemah pula. Buku-buku biografi tokoh-tokoh masyarakat kita merupakan contoh yang baik perihal buku jenis ini.

Mengekspresikan kembali gairah dan pikiran penulis, sekaligus mengusung karakter penerbitnya, adalah buah tempaan pengalaman bertahun-tahun, dari berpuluh-puluh judul buku. Ada yang terus berproses, ada yang telah mapan dengan inovasi kecil-kecilan. Dan, sebagai pecinta buku, Anda akan terasah untuk menangkap karakter sebuah buku dari sampulnya. Dari pintu itu pula, kita akan mampu membedakan - tanpa membaca nama penerbitnya lebih dulu - sebuah buku diterbitkan oleh Mizan, Gramedia, Pustaka Sinar Harapan, atau Gema Insani Pers.

Begitulah, bila pintu tidak didesain bagus, jangan harap orang akan mengetuknya. Hanya kutubuku yang tak peduli dengan semua itu!
0 comments share

Blog Entry Menimbang Buku Jul 18, '06 7:30 AM
for everyone
Oleh Dian R. Basuki
Pecinta Buku

Resensi memiliki makna menimbang, artinya menunjukkan segi-segi positif dan negatif sebuah buku, keunggulan, ketajaman, kebaruan, keunikan dan kekhasan, kedalaman materi, dan segi kebahasaannya maupun kelemahan-kelemahannya dari segi teori, metodologi, sistematika penulisan, serta kualitas isinya. Begitu beragam.

Akan tetapi, yang kerap terjadi justru banyak peresensi sekadar membaca sebuah buku, lalu meringkaskan isinya, dan kemudian menuliskannya untuk pembaca media massa.

Sering pula, peresensi mengutip endorsement yang tercetak di sampul belakang buku. Pada tahap ini, sesungguhnya seorang peresensi tidak layak menyebut diri sebagai penimbang buku. Yang ia lakukan tak lebih dari mencuplik paragraf-paragraf teks dan merangkainya menjadi sebuah naskah.

Banyak peresensi yang lupa bahwa pembacanya bukan sekadar ingin mengetahui apa isi sebuah buku, melainkan membutuhkan sejenis panduan sebelum ia membeli buku. Ketika pembaca resensi membuka ruang rehal atau ruang pustaka, yang ia perlukan lebih dari sekadar ''data statistik'' buku tersebut: judul, penulis, editor, penerbit, jumlah halaman, dll. Mereka ingin mengetahui dua sisi dari buku yang ditimbang.

Begitupun, masih juga ada yang dianaktirikan dalam resensi buku, yakni segi fisik buku. Agaknya belum menjadi kelaziman sebuah buku ditimbang pula dari segi-segi desain sampul, ukurannya--pas atau tidak, tipografinya--nyaman di mata atau tidak, pewarnaannya--menarik atau tidak, dan secara keseluruhan desainnya mencerminkan karakter isinya atau tidak.

Apakah jika itu diikuti, kolom resensi buku mampu menampung ulasannya? Mengapa tidak? Tantangannya justru di situ: menulis timbangan buku yang ringkas, padat, dan tepat sasaran. Sudah pasti, ini butuh proses pembelajaran yang cerdas.
0 comments share

Blog Entry Dokumentasi Pikiran Jul 18, '06 7:26 AM
for everyone
Oleh Dian R. Basuki
Pecinta Buku

Sebuah pelukisan yang jitu: ''dokumentasi'' pikiran dan kemajuan suatu bangsa. Masyarakat yang maju memang sejak lama terbiasa dalam iklim ''mendokumentasikan'' buah pikiran. Menulis. Mencatat. Menyimpan. Mempublikasi. Arsip, database, dokumen, manuskrip, kertas kerja, media cetak, dan--tentu saja--buku (termasuk electronic book kini) adalah kosakata yang akrab bagi mereka.

Betapa buruk perangai kita dalam soal ini tampak dari jumlah buku yang terbit di negeri ini. Mengutip Arselan Harahap, ketua umum Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi), setiap tahun cuma muncul 10 judul baru untuk setiap satu juta penduduk Indonesia. Angka itu kurang dari 20% capaian negara berkembang umumnya--55 judul per satu juta penduduk per tahun. Dan, jauh di bawah prestasi negara maju yang mencapai 535 judul per satu juta penduduk per tahun.

Kita sudah lama terbenam dalam kultur wicara. Berbicara memang mengasyikkan, tetapi ia juga memabukkan--seorang orator akan cenderung memuja diri sendiri. Kita bertepuk tangan panjang pada para orator, menghadiahi standing ovation pada mereka yang piawai bermain kata-kata, memuja pada mereka yang mempermainkan makna-makna. Tapi, kita tidak menggubris mereka yang menuliskan pikirannya, yang mengekspresikan spiritnya dalam huruf-huruf, dalam teks, karena membaca (agaknya) lebih sulit daripada berbicara.

Betapa banyak dari kita yang pandai berwicara, namun gagap tatkala menulis. Betapa banyak dari kita yang piawai berkata-kata hingga berbusa-busa, tetapi mati kutu ketika menorehkan pena. Orang bijak berpetuah, kalimat yang tertata adalah cermin pikiran yang tertata. Jika kita bersikap jujur, kita terbiasa berwicara dalam kalimat yang berantakan, dan itulah cermin pikiran yang berantakan pula. Kita berkubang dalam wacana (wicara) yang berantakan. Dan kita miskin wacana (tulisan) yang bermakna.

Sebuah kritik tajam dilontarkan pada pekan lalu: ''Ilmuwan sosial kita terlalu banyak berbicara, tetapi kurang meneliti dan menulis.'' Siapa yang berbicara niscaya tak begitu penting dibandingkan muatannya. Kita bisa belajar mengambil manfaat dari sengatnya yang tajam, bahwa betapa banyak peristiwa sosial yang mengharu-biru negeri ini dalam tahun-tahun terakhir, akan tetapi begitu sedikit kita belajar dari semua peristiwa itu. Sungguh, ilmuwan sosial hanyalah contoh semata. Banyak hal kita dapat belajar dari rangkaian peristiwa itu, namun kita hanya mampu sedikit melakukannya.

Ketika seorang Mattulada memenuhi panggilan Penciptanya, tatkala seorang Hassan Shadily wafat, mereka memang meninggalkan teks. Meski, sebagian saja. Yang tak tercatat, niscaya, jauh lebih banyak, lebih dalam, lebih berbobot. Pengalaman. Kearifan. Itulah yang tidak tertulis--betapa masyarakat harus menempuh sekian waktu untuk membentuk Mattulada baru, Hassan Shadily baru, sementara pengalaman-pengalaman yang mereka himpun selama puluhan tahun belum tertularkan sepenuhnya. Kehadiran teks hanya mengisi sebagian kecil kekosongan itu.

Teks adalah sebuah wahana bagi masyarakat belajar (learning society), yang dari sini pengetahuan beranjak dan berkembang--terus menerus menuju kematangan. Tanpa teks, peristiwa-peristiwa--yang itu berarti pula pengalaman-pengalaman--akan menguap ditelan waktu, untuk kemudian kita bertengkar tentang kebenaran peristiwa itu pada hari terkemudian. Tanpa teks, kita tidak akan mampu memetik kearifan hidup. Tanpa teks, kita mewariskan apa kepada anak cucu?
0 comments share

Blog Entry Memburu Buku Jul 18, '06 6:59 AM
for everyone

Oleh Dian R. Basuki
Pecinta Buku

Nama panggilannya Win. Bila suatu ketika ia tergopoh-gopoh dengan wajah ceria, itu berarti ia baru saja berburu dan mendapatkan ''buku baru'' yang ia ingin tunjukkan kepada saya. ''Buku baru'', karena buku itu memang ''baru'' ia beli di salah satu kios buku loak di bilangan Pasar Senen atau di toko buku langka milik Afrizal Malna di kawasan Taman Ismail Marzuki.

Umumnya, buku-buku yang dibeli oleh Win sudah berwarna agak kecoklatan, dengan beberapa coretan di sana-sini. Namun, ia bangga menunjukkan kepada saya. Bahkan ia bercerita dengan hanya uang duapuluh lima ribu rupiah, ia bisa memperoleh empat atau lima buah buku, yang menurutnya, ''isinya masih relevan dengan situasi sekarang.'' Dan ia menyebut sudah menghabiskan ratusan ribu dalam tiga bulan terakhir ini untuk memburu buku bekas. Ia juga bangga mengatakan bahwa itulah yang kelak dapat ia wariskan pada anak-anaknya.

Namun, lain kali ia mengungkapkan kekecewaannya, karena ada sebuah buku bagus yang ingin ia beli, tapi koceknya menjerit. Ia ''terpaksa rela'' buku yang ia minati itu diambil orang lain, yang juga sama-sama books hunter. Sebagai gantinya, di kesempatan lain ia memperoleh buku bagus yang sebenarnya pesanan orang lain. ''Pemesannya nggak datang-datang, Mas, sudah lewat tiga hari. Jadi, saya lepas buat Mas saja,'' ujar Win menirukan si pedagang buku bekas.

Memburu buku (books hunting) merupakan sejenis kegiatan yang disukai oleh para kolektor buku (books collector). Kegiatan ini menawarkan tantangan tersendiri: butuh ketekunan, kesabaran, kejelian, kepintaran menawar, dan ketidakletihan untuk mencari. Tanpa semua itu, niscaya buku yang diharap tidak akan datang dengan sendirinya, kecuali jika sedang mujur. Sebaliknya, jika buku yang diinginkan berhasil didapat, sungguh itu suatu kenikmatan.

Bagi para pemburu buku, Pasar Senen di Jakarta, Pasar Palasari di Bandung, atau ''Shopping'' di Yogyakarta, juga beberapa toko buku bekas di kawasan Pantai Kuta, Bali, adalah tempat berburu yang mengasyikkan.

Begitupun, banyak buku langka yang baru bisa diperoleh berkat kepekaan telinga si pemburu dalam menangkap informasi keberadaan buku itu. Jaringan pertemanan maupun dengan para pedagang buku bekas amatlah membantu.

Buku bekas (used books) dan buku langka (rare books) memang berbeda. Buku yang habis dibaca untuk kemudian dilego ke pasar, itulah yang biasa disebut buku bekas. Jumlahnya di pasaran masih relatif banyak. Buku langka jelas memang buku bekas, tetapi jumlahnya amat-sangat sedikit, dan lazimnya tidak lagi dicetak ulang. Kalaupun dicetak ulang, buku edisi pertamalah yang biasanya bernilai jauh lebih tinggi. The Origin of Species karya Charles Darwin, misalnya, sampai kini masih dicetak ulang. Tetapi, yang harganya selangit ialah cetakan pertamanya, seabad lebih yang lampau.

Lantaran itu, mengoleksi buku (bekas maupun langka) bisa menjadi hobi yang murah sekaligus mahal. Jika nasib tengah mujur, sebuah buku yang berharga bisa diperoleh dengan uang di bawah sepuluh ribu rupiah, lantaran di penjual tak memahami nilai buku tersebut. Buku Di Bawah Bendera Revolusi karya Bung Karno yang edisi pertama pada beberapa bulan yang lampau ditawarkan 1-2 juta rupiah.

Toh, nilai sebuah buku tak selalu bisa diuangkan. Afrizal Malna mengaku telah melepas History of Java karya Thomas Stanford Raffles dengan harga lima juta rupiah saja kepada sebuah penerbit Indonesia. Padahal, seorang books hunter yang mewakili sebuah lembaga di luar negeri menawar buku langka itu berlipat-lipat lebih tinggi. ''Dengan saya lepas kepada penerbit Indonesia, buku itu bisa jadi lebih bermanfaat,'' ujar Malna. Kabarnya, History of Java, yang sudah lecek itu, tengah diterjemahkan untuk dapat diterbitkan dalam Bahasa Indonesia.

Begitulah, rupa-rupa wujud kecintaan para books hunter dan books collector. Mereka umumnya gundah bilamana buku-buku langka itu terbang ke luar negeri dan menjadi koleksi bangsa lain yang lebih menghargai sejarah dan kebudayaan manusia. Sementara, kaum berduit dalam masyarakat kita lebih suka menyimpan deposito, mengoleksi mobil dan rumah, serta memperbanyak teman kencan.
0 comments share

Blog Entry Perpustakaan Apa, Bagaimana, dan Mengapa Jul 18, '06 6:47 AM
for everyone
Oleh MT Zen
Gurubesar Geofisika Terapan ITB

Library, Bibliotheque, Bibliotheek, Perpustakaan! Alangkah indahnya perkataan itu. Pendek, singkat, jelas! Tapi itu di begara lain. Di Indonesia, perpustakaan itu lebih sering berfungsi sebagai gudang penyimpan buku, berdebu, tidak terawat, tidak ada yang mengelola, dan kurang diminati.

Lupakan Indonesia! Kita terawang dunia perpustakaan. Binatang apa itu, bagaimana ia berfungsi, dan mengapa begitu penting di mata banyak orang terkecuali di Indonesia?

Di zaman sekarang perpustakaan bukanlah sekadar tempat menyimpan buku, koran, majalah, dokumen-dokumen tua dalam bentuk perkamen, kulit dan sebagainya, tetapi juga dalam bentuk slides, film, piringan hitam, CD, tape/pita, dan kini dalam bentuk jejaringan internet. Dengan demikian ia berfungsi sebagai pusat informasi. Tempat orang bertanya.

Di negara-negara maju, suatu perpustakaan pasti menyimpan segala buku penting, baik yang lama maupun yang baru terbit. Jika tidak dalam bahasa aslinya tentu dalam bentuk terjemahan dalam bahasa negara tersebut. Yang mengepalai suatu perpustakaan besar biasanya seorang professor dengan kepala botak yang lebih mengkilap dan menyilaukan dari kubah teropong bintang Boscha di Lembang. Biasanya dia berasosiasi dengan universitas di kota tersebut atau yang terdekat, dan juga memberi kuliah, barangkali dalam library sciences, information sciences, sosiologi atau antropologi. Kalau kita bertemu dengannya di hall besar, dan kita berani menyapanya dan bertanya: 'Pak Professor, buku apa sebaiknya bagi pemula untuk mengetahui tentang globalitas?' Maka, sudah tentu dia tidak menjawab dengan menyebut sebuah judul, tetapi dia kasih kuliah kira-kira tiga jam sampai kita harus cari-cari alasan untuk lari. Nah, itu kepala perpustakaan.

Dalam gedung perpustakaan besar seperti yang dilukiskan tadi, selain tempat menyimpan buku-buku, majalah, dokumen dan lain-lain berdasarkan suatu klasifikasi dan methoda tertentu, terdapat banyak sekali ruang bacaan berupa meja besar panjang. Di depan setiap tempat duduk terdapat meja baca sehingga ruang itu tidak terang benderang sehingga silau, sedikit redup, tetapi setiap pembaca memperoleh cahaya yang cukup. Ada juga ruangan khusus yang lebih kecil. Tetapi semuanya diatur agar benar-benar berfungsi untuk orang bekerja/membaca selama dia mau. Dia boleh datang setiap hari (terkecuali hari libur) dan selama perpustakaan itu buka. Bagi pelanggan tertentu yang datang setiap hari untuk mengerjakan penelitian, disediakan ruang atau meja tertentu. Gedung itu, yang terdiri dari 4-5 atau 10 tingkat sunyi senyap. Semua orang membaca, menulis, berpikir, merenung. Kalau kita berbicara sedikit saja, maka semua kepala serentak menoleh ke arah kita. Dengan demikian tidak ada yang berani bersuara mengobrol, atau berbuat gaduh. Tidak ada polisi, atau satpam. Semua orang mematuhi aturan, atau norma itu.

Kenapa Kita Butuh Perpustakaan

Di zaman ini, sudah ratusan tahun bahkan ribuan tahun sebelum Masehi, orang sudah menginsyafi pentingnya perpustakaan. Informasi yang dibutuhkan manusia begitu banyak. Jika setiap orang peneliti, pengarang, atau dosen harus membeli semua buku yang dia harus baca/pelajari, atau berlangganan semua majalah ilmiah yang ia butuhkan, maka ... seluruh hartanya tidak mencukupi. Oleh karena itu didirikan perpustakaan. Di samping itu merawat sekian banyak buku tidak mudah, terutama di negara Tropika beriklim lembab.

Buku-buku dan dokumen-dokumen tersebut serta item lainnya harus disimpan di ruang khusus, dan ada yang merawatnya. Di samping itu diperlukan ahli yang tahu bagaimana membuat perpustakaan berfungsi secara optimal. Dia atau mereka bukan birokrat, melainkan ahli. Mereka harus tahu akan kebutuhan masyarakat.

Di suatu perpustakaan yang benar-benar berfungsi, jika Anda membutuhkan suatu buku, dan kebetulan buku itu tidak ada di perpustakaan tersebut, mereka pasti akan pesankan/belikan atau pinjamkan dari tempat/lembaga lain yang memiliki. Semua itu tanpa bayaran satu sen pun jika Anda adalah seorang mahasiswa yang terdaftar resmi di universitas tersebut. Jika perpustakaan umum ini berlaku juga bagi para anggotanya. Jika benar-benar orang luar yang mereka tidak kenal, Anda dikenakan ongkos administrasi sedikit.

Jadi, orang-orang Indonesia yang bepergian ke luar negeri, kunjungilah beberapa perpustakaan yang terkenal, pinjam buku, duduk dan baca di ruang baca. Perhatikan seksama di sekitarnya. Sesudah itu tanyakan edisi terakhir KOMPAS atau TEMPO. Jika perpustakaan itu milik suatu universitas kenamaan seperti Universitas California di Berkley, Columbia atau Harvard, Anda akan memperoleh yang Anda cari. Anda akan membawa kesan yang tak terlupakan.

Kesimpulan: Kewajiban Pemerintah

Dalam rangka usaha mencerdaskan bangsa Pemerintah Indonesia, baik pusat maupun daerah, ialah membangun perpustakaan sebaik mungkin.

Memang harus ada investment di sini. Tetapi, buahnya nanti berupa warga yang cerdas dan berpengetahuan. Hal sedemikian akhirnya menguntungkan semua pihak.

Secara khusus harus ditekankan bahwa dalam bidang ini pemerintah mempunyai tiga kewajiban, yakni: 1. Mulai membangun perpustakaan, tetapi setiap tahun ada anggaran khusus untuk menambah jumlah judul. Dalam 25 tahun akan terasa hasilnya.
2. Mengadakan Program Penerjemahan buku. Suatu memilih judul-judul yang perlu diterjemahkan. Penerjemahan dilakukan oleh para ahli dalam menerjemahkan. Semua buku-buku penting diterjemahkan. Ini tidak boleh terbatas kepada buku-buku ilmiah saja, tetapi juga buku-buku sastra yang bermutu. Terlalu sering dilupakan bahwa seseorang dapat belajar banyak dari buku-buku yang diklasifikasikan sebagai novel atau roman. Ingat kembali usaha Balai Pustaka di zaman Belanda dulu. Buku-buku sastra penting diterjemahkan seperti Nelayan di Laut Utara oleh Pierre Lotti; Seri buku-buku Alexander Dumas; Victor Hugo, dan lain-lain. Hanya dengan demikian kita memperkaya kehidupan para remaja. Dari buku-buku itulah mereka memperoleh inspirasi mau menjelajahi kutub, pegunungan, bahkan untuk bertualang ke bulan atau ke planet Mars.
3. Menyediakan dana untuk mensponsori penulisan naskah-naskah asli oleh putra-putra Indonesia, baik dalam bidang ilmiah maupun ilmu-ilmu sosial lainnya serta buku-buku sastra.

Karena program ini membutuhkan waktu panjang, mulailah dari sekarang. Jadi, dalam anggaran belanja negara tahun 2001 ini mulai dilakukan sekalipun dananya masih kecil, tetapi ditingkatkan setiap tahun. Mulailah melangkah. Jangan tunggu jalannya menjadi rata. Melangkah sekarang juga. Lakukan secara konsisten.

Kewajiban Keluarga

Ini juga berlaku untuk para keluarga. Mulailah koleksi keluarga yang kecil. Pada setiap hari ulang tahun putra/putri Anda berikan buku-buku referensi sebagai hadiah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar